I.
JUDUL : Penguapan Air Melalui
Proses Transpirasi
II.
TUJUAN :
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk
mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses
transpirasi serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
III.
DASAR
TEORI
Air yang diserap tumbuhan sebagian kecil digunakan untuk proses
metabolisme dan dipertahankan di dalam sel untuk membentuk turgor sel, namun
sebagian besar akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Hilangnya air ke atmosfer
dapat terjadi melalui proses transpirasi, gutasi, sekresi, dan perdarahan.
Transpirasi adalah hilangnya air dalam bentuk uap dari batang dan daun tumbuhan
hidup. Jumlah yang mengalami penguapan dari batang sangatlah sedikit,
kehilangan air terbesar dari proses transpirasi terjadi melalui daun (Hanum,
2008).
Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan,yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai
proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata,
kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang
lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil
dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Transpirasi adalah proses
evaporasi pada tumbuhan (Sasmitamihardja, 1996).
Transpirasi terjadi dalam setiap bagian tumbuhan)
tetapi pada umumnya
kehilangan air terbesar berlangsung melalui daun-daun. Ada dua tipe transpirasi
yaitu :
1.
Transpirasi
kutikula yaitu evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula
epidermis.
2.
Transpirasi
stomata yang dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui stomata. Hampir 97% air dari tanaman hilang melalui
transpirasi stomata.
Kutikula
daun secara relatif tidak tembus air dan pada sebagian besar jenis tumbuhan
transpirasi kutikula hanya sebesar 10 % atau kurang dari jumlah air yang hilang
melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi
melalui stomata (Loveless, 1991).
Peristiwa transpirasi biasanya berhubungan dengan
kehilangan air-dalam melalui stomata, kutikula, dan lentisel. Banyak air yang
harus hilang melalui transpirasi untuk membesarkan tumbuhan karena rangka
molekul semua bahan organik pada tumbuhan terdiri dari atom karbon yang harus
diperoleh dari atmosfer. Karbon masuk ke dalam tubuh sebagai karbon dioksida
melaui pori stomata, yanag paling banyak terdapat pada permukaan daun dan air
keluar secara difusi melalui pori yang sama saat stomata terbuka (Salisbury
& Ross, 1995)
Teori kehilangan air melalui traspirasi ini disebut
juga teori tegangan adhesi dan kohesi Pada sebagian besar tumbuhan,
transpirasi umumnya sangat rendah pada malam hari. Transpirasi mulai menaik
beberapa menit setelah matahari terbit dan mencapai puncaknya pada siang hari.
Transpirasi berhubungan langsung dengan intensitas cahaya (Hanum, 2008).
Salah
satu penyebab terjadinya pelayuan adalah karena adanya proses transpirasi atau
penguapan air yang tinggi melalui bukaan-bukaan alami seperti stomata, hidatoda
dan lentisel yang tersedia pada permukaan dari produk sayuran daun tersebut.
Kadar air (85-98%) dan rasio antara luas permukaan dengan berat yang tinggi
dari produk memungkinkan laju penguapan air berlangsung tinggi sehingga proses
pelayuan dapat terjadi dengan. Selain faktor internal produk, faktor eksternal
seperti suhu, kelembaban serta kecepatan aliran udara berpengaruh terhadap
kecepatan pelayuan. Mekanisme membuka dan menutupnya bukaan-bukaan alami pada
permukaan produk seperti stomata dipengaruhi oleh suhu dari produk. Pada
kondisi dimana suhu produk relatif tinggi maka bukaan-buakaan alami cenderung
membuka dan sebaliknya pada keadaan suhunya relatif rendah maka buakaan alami
mengalami penutupan (Safrizal, 2008).
Tingginya kandungan air produk menyebabkan tekanan
uap air dalam produk selalu dalam keadaan tinggi dan bila kelembaban udara atau
tekanan uap air di udara rendah maka akan terjadi defisit tekanan uap air yang
menyebabkan perpindahan air dari dalam produk ke udara sekitarnya. Bila
sebaliknya, tekanan uap air di luar lingkungan produk lebih tingg,i maka akan
terjadi pergerakan air dari luar ke dalam produk. Sangat memungkinkan untuk
mendifusikan air ke dalam produk semaksimal mungkin untuk menyegarkan kembali
dengan mengatur tekanan air serta mengendalikan mekanisme membuka dan
menutupnya bukaan alami, dimana proses penyegaran ini dikenal dengan crisping
(Utama, 2007: 118).
Transpirasi mempunyai manfaat bagi tanaman antara lain:
- Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
- Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan yang berlebihan.
- Mempercepat laju pengangkutan dan penyerapan unsur hara melalui pembuluh xylem
- Menjagaturgiditasseltumbuhan agar tetap pada kondisioptimal
- Sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu.
- Pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel.
- Pengangkutan asimilat.
- Pengaturan bukaan stomata.
(Lakitan,
1993).
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan
proses fisika yang terlibat dalam penguapan air dari permukaan bebas. Dinding
mesofil basah yang dibatasi dengan ruang antar sel daun merupakan permukaan
penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel biasanya lebih besar daripada
udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan keluar
dari daun melalui stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per satuan
waktu, dengan demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air (Sasmitamihardja,
1996).
Proses transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun
luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun,
berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada
permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata (Tim Pembina Fisiologi
Tumbuhan, 2013: 8).
Faktor internal yang mempengaruhi proses
transpirasi anatara lain:
1.
Penutupan Stomata : Dengan terbukanya
stomata lebih lebar, air yang hilang lebih banyak tetapi peningkatan kehilangan
air lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan pelebaran stomata.
2.
Jumlah dan Ukuran Stomata : Kebanyakan
daun tanaman yang produktif mempunyai banyak stomata pada kedua sisi daunnya.
Jumlah dan ukuran stomata yang dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan
3.
Jumlah Daun : Makin luas daerah
permukaan daun, makin besar transpirasi
4.
Penggulungan atau Pelipatan Daun :
Banyak tanaman yang mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan
pengurangan transpirasi apabila perairan terbatas
5.
Kedalaman dan Proliferasi Akar :
Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dan proliferasi akar
meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi
pelayuan tanaman (Winatasusmita, 1997).
Faktor eksternal yang mempengaruhi
proses transpirasi antara lain:
1. Kelembaban
Udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara
yang kering melancarkan transpirasi
2. Temperatur
Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam
daun. Kenaikan temperatur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di
luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang
yang terbatas maka tekanan uap tidak akan setinggi tekanan uap yang terkurung
di dalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air mudah
berdifusi dari dalam daun ke udara bebas.
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F
cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini
akansangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi
pembukaan stomata.
3.
Sinar
matahari
Sinar matahari menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan
menutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi.
Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui
dua cara pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi
aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui
pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.
4.
Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling
bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi
sehingga angin menurunkan kelembanan udara diatas stomata, sehingga
meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu daun, maka akan
mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan
tingkat transpirasi
5.
Kandungan
air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air
tanah dan alju absorbsi air di akar. Pada siang hari biasanya air
ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari tanah. pada malam hari
terjadi sebaliknya.
(Dwijoseputro, 1990).
Transpirasi ditentukan oleh seberapa besar
celah antara 2 sel penutup, sehingga proses-proses yang menyebabkan membuka
menutupnya stomata menentukan besarnya transpirasi. Gerak sel penutup terjadi
akibat perubahan turgornya, yang berubah karena potensial airnya. Penyebab
perubahan potensial air itu diduga karena:
1. Bertambahnya gula dalam sel penutup sebagai
hasil fotosintesis. Meskipun sel penutup mempunyai kloroplas, tetapi produksi
gulanya tidak cukup besar untuk menghasilkan efek tersebut.
2. Perubahan amilum menjadi gula. Teori ini
menganggap bahwa dalam gelap CO2 yang mengumpul dalam sel penutup
menyebabkan pHnya rendah. Bila terkena cahaya CO2 ini akan berkurang
karena fotosintesis sehingga pHnya naik, akibatnya enzim amilase menjadi lebih aktif
dan kadar glukosa naik.
3. Perubahan permeabilitas. Perubahan pH juga
dapat menyebabkan permeabilitas membrane sel berubah, sehingga memungkinkan
bahan terlarut keluar atau masuk sel penutup. Karena permeabilitas membran
plasma sel penutup terhadap air tidak terpengaruh oleh pH, maka bahan terlarut
yang menentukan membuka/menutupnya stomata. Yang berperan disini terutama ion
K.
4. Hasil metabolisme langsung. Masuknya ion ke
dalam sel penutup menggunakan energi metabolisme menyebabkan potensial air
menjadi lebih negatif dan sel penutup menyerap air yang menyebabkan stomata
membuka.
(Sasmitamihardja, 1996).
IV. METODE
PENELITIAN
4.1 Alat dan Bahan
a.
Alat
1.
Gunting
tanaman
2.
Ember
3.
Gelas
ukur 10 ml
4.
Silet
5.
Kertas
grafik
6.
Gelas
obyek dan gelas penutup
7.
Rak
tabung
8.
Mikroskop
b.
Bahan
1.
Batang/ranting
Bauhinia sp.
2.
Batang/ranting
Impatiens balsamina
3.
Minyak
kelapa
4.
Kuteks
bening (cat kuku)
4.2
|
![]() |
||
![]() |
||
![]() |
4.3 Hasil pengamatan
|
Kel.
|
Banyaknya stomata
|
Waktu
|
Impatiens balsamina
|
Bauhinia sp.
|
||
|
Vteduh (ml)
|
Vterik (ml)
|
Vteduh (ml)
|
Vterik (ml)
|
|||
|
1.
|
Atas: 16
Bawah: 68
|
0
5
10
15
20
25
30
|
8,3
8,3
8,3
8,3
8,3
8,25
8,25
|
8,8
8,8
8,8
8,8
8,8
8,7
8,6
|
|
|
|
2.
|
Atas: 247
Bawah: 60
|
0
5
10
15
20
25
30
|
|
|
7,6
7,9
7,3
7,2
7,2
7,1
7,05
|
7
7,2
7,2
7
7
7
7
|
Volume
awal Impatiens balsamina di tempat
teduh: 8,3 ml
Volume
awal Impatiens balsamina di tempat
terik: 8,8 ml
Rata-rata
kecepatan volume Impatiens balsamina di
tempat teduh:
0 + 0 +
0 + 0 + 0,05 + 0 = 0,05/6 =0,008 ml/5 menit
Rata-rata
kecepatan volume Impatiens balsamina di
tempat terik:
0 + 0 +
0 + 0 + 0,1 + 0,1 = 0,2/6 = 0,033 ml/5 menit
Volume awal Bauhinia sp. di
tempat teduh: 7,6
Volume awal Bauhinia sp. di
tempat terik: 7
Rata-rata kecepatan volume Bauhinia
sp. di tempat teduh:
-0,3 + 0,6 + 0,1 + 0 + 0,1 + 0,05 = 0,55 ml/5 menit
Rata-rata kecepatan volume Bauhinia
sp. di tempat terik:
-0,2 + 0 + 0,2 + 0 + 0 + 0 = 0,4/6 = 0,067 ml/5 menit
V. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu tentang penguapan air
melalui proses transpirasi. Air
yang diserap tumbuhan sebagian kecil digunakan untuk proses metabolisme dan
dipertahankan di dalam sel untuk membentuk turgor sel, namun sebagian besar
akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Hilangnya air ke atmosfer dapat terjadi
melalui proses transpirasi, gutasi, sekresi, dan perdarahan. Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan,
yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai
proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata,
kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang
lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil
dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Transpirasi adalah proses
evaporasi pada tumbuhan.
Adapun langkah yang kami lakukan, yang pertama yaitu
memotong helai daun Bauhinia sp. dan Impatiens balsamina hingga tinggal 5 daun teratas kemudian memotong
batang atau ranting tumbuhan Bauhinia sp. dan Impatiens balsamina di bawah permukaan air untuk menjaga
ketersediaan air didalam tumbuhan tersebut. Kemudian mengisi 2 gelas ukur 10 ml dengan air sebanyak 6-7 ml dan
memasukkan segera potongan ranting tumbuhan tersebut ke dalam 2 gelas ukur
kemudian menetesi dengan minyak kelapa sampai seluruh permukaan tertutup, hal
ini dimaksudkan agar air tidak menguap dan mencatat waktu saat memasukkan
tubuhan ke dalam gelas ukur. Kemudian meletakkan 1 gelas ukur di tempat terik
dan 1 gelas ukur lain di tempat teduh. Setelah itu, mengamati dan mencatat
perubahan air yang terjadi pada gelas ukur setiap 5 menit selama 30 menit
dengan membaca skala yang ada pada gelas ukur. Kemudian mencatat jumlah air
yang diuapkan setiap periode dan menghitung nilai rata-ratanya. Kemudian
mengukur luas daun yang digunakan dalam percobaan dengan cara menggambar
(menjiplak) daun pada kertas grafik, kemudian menghitung luas daun pada hasil
jiplakan pada kertas grafik tersebut. Setelah itu, Mengoleskas kuteks bening
pada sisi atas dan bawah daun dan membiarkan beberapa menit hingga mengering
untuk mempermudah mengambil stomata dipermukaan epidermis atas dan bawah daun.
Kemudian menarik kuteks yang telah mengering tersebut secara hati- hati dan
meletakkannya di atas gelas obyek dan memberi sedikit air kemudian menutup dengan gelas penutup dan mengamati di bawah
mikroskop dan mencari diameter stomata dan luas stomata. Kemudian
mengkonversikan banyaknya stomata dalam satu luas daun.
Dari
hasil pengamatan diperoleh data laju transpirasi batang pacar air dan Bauhinia. Pada kelompok menggunakan
batang pacar air, pada tempat yang teduh volume air yang digunakan dalam gelas
ukur yaitu 8,3 ml. Banyaknya stomata di
epidermis atas yaitu 16. Rata-rata kecepatan volumenya 0,008 ml/5 menit.
Transpirasi terjadi pada menit ke-25 sebesar 0,05. Sedangkan pada tempat yang
terik volume air yang digunakan dalam gelas ukur yaitu 8,8 ml. Banyaknya stomata di epidermis
bawah yaitu 68. Rata-rata kecepatan volumenya 0,033 ml/5 menit. Transpirasi terjadi pada menit
ke-25 sebesar 0,1 dan menit ke-30 sebesar 0,1. Perbedaan laju transpirasi pada
kedua batang pacar air tersebut dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu besar
kecilnya daun, tebal tipisnya daun dan banyak sedikitnya stomata. Serta faktor
luar yaitu radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan angin,
dimana pada batang pacar air di tempat teduh radiasi, temperatur, kelembaban
udara, tekanan udara dan anginnya lebih rendah daripada di tempat terik
sehingga laju transpirasinya lambat.
Kemudian pada kelompok 2 mengamati ranting
Bauhinia sp. pada kondisi didalam ruangan (tempat teduh) volume air yang
digunakan dalam gelas ukur yaitu 7,6 ml.
Banyaknya stomata di epidermis atas yaitu 247. Rata-rata kecepatan volumenya 0,55 ml/5 menit. Transpirasi
terjadi pada menit ke-10 sebesar 0,6; pada menit ke-15 sebesar 0,1; pada menit
ke-25 sebesar 0,1 dan pada menit ke-30 sebesar 0,05. Sedangkan pada tempat yang
terik volume air yang digunakan dalam gelas ukur yaitu 7 ml. Banyaknya stomata di epidermis
bawah yaitu 60. Rata-rata kecepatan volumenya 0,067 ml/5 menit. Transpirasi terjadi pada menit ke-15
sebesar 0,2 dan menit ke-30 sebesar 0,1. Volume awal yang digunakan pada tempat
teduh di menit ke-0 adalah 7,6 namun pada menit ke-1 menjadi 7,9. Begitu juga
volume awal yang digunakan pada tempat terik di menit ke-0 adalah 7 namun pada
menit ke-1 menjadi 7,2. Hal ini mungkin terjadi kesalahan perhitungan atau
kurangnya ketelitian melihat skala gelas ukur. Perbedaan laju transpirasi pada
kedua ranting Bauhinia sp. tersebut dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu
besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun dan banyak sedikitnya stomata. Serta
faktor luar yaitu radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan
angin, dimana menurut literatur di
tempat teduh radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan anginnya
lebih rendah maka transpirasinya lebih lambat. Namun dari hasil pengamatan yang
diperoleh kelompok 2 pada tempat teduh transpirasinya lebih cepat daripada yang
di tempat terik. Hal ini mungkin terjadi kesalahan perhitungan atau kurangnya
ketelitian melihat skala gelas ukur. Selain itu, jumlah stomata epidermis daun
atas lebih banyak daripada jumlah stomata daun bawah. Hal ini tidak sesuai
dengan literatur, dimana stomata daun bawah lebih banyak daripada stomata
epidermis daun atas karena Bauhinia sp. bukan merupakan tumbuhan yang
hidup di air stomata epidermis daun atas lebih banyak daripada jumlah stomata
daun bawah. Hal ini mungkin terjadi kesalahan saat menarik kuteks dan mengamati
di bawah mikroskop atau terbalik saat mengambillapisan kuteks dan mengamati di bawah mikroskop.
Molekul air akan melakukan tarik menarik
dengan molekul air lainnya melalui proses kohesi. Selain itu molekul air juga
dapat melakukan tarik menarik dengan dinding xilem melalui proses adhesi. Penguapan
air melalui stomata akan menarik kolom air yang ada di dalam xilem, dan molekul
air baru akan masuk ke dalam rambut akar. Teori kehilangan air melalui
traspirasi ini disebut juga teori
tegangan adhesi dan kohesi.
Perbedaan transpirasi yang terjadi pada kedua
tumbuhan karena adanya pengaruh faktor dalam dan luar. Beberapa faktor dalam yang mempengaruhi
transpirasi antara lain:
1.
Besar kecilnya daun
Besar kecilnya daun
sangat berpengaruh dalam transpirasi, semakin luas permukaan daun maka semakin
luas pula proses transpirasi, hal ini berkaitan dengan jumlah stomata yang
berbanding lurus dengan luas pemukaan daun.
2. Tebal tipisnya daun
Semakin tebal daun suatu tumbuhan, maka akan
semakin lambat laju transpirasinya, sebaliknya jika daun tipis maka
transpirasinya semakin cepat. Antara Bauhinia sp. dan pacar air memiliki
tebal daun yang berbeda. Bauhinia sp.
memiliki daun yang lebih tebal daripada pacar air.
3.
Berlapis lilin tidaknya daun
Semakin banyak lapisan
lilin yang menyelubungi daun atau batang, maka proses transpirasi yang terjadi
semakin kecil. Fungsi dari lapisan lilin sendiri untuk mengurangi proses
penguapan.
4.
Banyak sedikitnya bulu
Pada tumbuhan yang
memiliki lebih banyak bulu atau trikom dapat menghambat proses transpirasi,
jadi permukaan tumbuhan yang tidak memiliki alat tambahan (trikom) akan lebih
cepat proses transpirasinya.
5.
Banyak sedikitnya stomata
Semakin banyak stomata maka laju transpirasi
lebih cepat. Stomata kadang hanya terdapat di bawah permukaan daun,
tapi sering ditemukan di kedua permukaan sisi daun, meskipun lebih banyak
terdapat dibagian bawah. Pada siang hari, dimana radiasi sinar matahari tinggi
akan merangsang tumbuhan untuk dapat menangkap cahaya tersebut sebanyak-banyaknya
dengan membuka stomatanya. Terbukanya stomata akan mempercepat proses
transpirasi.
Selain faktor dalam, juga
terdapat faktor luar yang mempengaruhi transpirasi antara lain:
1.
Radiasi
Semakin banyak radiasi
matahari yang diterima akan menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih
cepat dan transpirasi juga meningkat.
2.
Temperatur
Naiknya suhu mempengaruhi
naiknya evaporasi dan sedikit difusi. Naiknya suhu juga membuat udara membawa
lebih banyak kelembaban, maka transpirasi
meningkat.
3.
Kelembaban
Bila kelembapan udara
rendah maka selisih potensial air antara isi sel dan udara menjadi lebih besar
akan mempercepat penguapan dan difusi udara luar.
4.
Tekanan udara
Makin tinggi tekanan udara, proses transpirasi makin
terhambat.
5.
Angin
Angin yang kencang
menyebabkan peningkatan transpirasi dapat berlangsung.
6.
Keadaan air dalam tanah
Keadaan air dalam tanah
sangat berpengaruh dalam proses transpirasi. Semakin banyak air dalam tanah
maka tumbuhan akan semakin dalam melakukan proses transpirasi, sebaliknya
tumbuhan yang keadaan air tanahnya kurang maka akan berusaha mengurangi proses
penguapan.
VI. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.
Transpirasi
adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan,
yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai
proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata,
kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang
lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil
dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata.
2. Molekul
air akan melakukan tarik menarik dengan molekul air lainnya melalui proses
kohesi. Selain itu molekul air juga dapat melakukan tarik menarik dengan
dinding xilem melalui proses adhesi. Penguapan air melalui stomata akan menarik
kolom air yang ada di dalam xilem, dan molekul air baru akan masuk ke dalam
rambut akar. Teori kehilangan air melalui traspirasi ini disebut juga
teori tegangan adhesi dan kohesi.
4.
Transpirasi yang terjadi
pada tumbuhan karena adanya pengaruh faktor dalam dan luar. Beberapa faktor dalam yang mempengaruhi
transpirasi antara lain: besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin tidaknya daun, banyak sedikitnya bulu dan banyak sedikitnya stomata. Faktor dalam yang mempengaruhi transpirasi antara lain: radiasi, temperatur, kelembaban, tekanan udara, angin
dan keadaan air dalam tanah.
6.2
Saran
Dalam
praktikum seharusnya dilakukan dengan teliti dan cermat agar tidak terjadi
kesalahan. Selain itu, dengan jumlah praktikan yang banyak seharusnya mikroskop
yang digunakan juga banyak, agar semua praktikan dapat melakukan percobaan
dengan maksimal. Dan waktu yang digunakan juga efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1990. Pengantar Fisiologi
Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Hanum,
C . 2008 . Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Lakitan, B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada.
Loveless, A.R .1991 .Prinsip-prinsip
Biologi
Tumbuhan
untuk
Daerah
Tropik. Jakarta: Gramedia.
Safrizal.
2008. Pengaruh Penggenangan Terhadap
Pertumbuhan Vegetatif Cabai. http://ejournal .unisri.
ac.id/index.php/innofarm/article/download/247/211 Vol. 3: 62 (di akses 31 Oktober 2013).
Salisbury,
F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi
Tumbuhan. Bandung: ITB.
Sasmitamihardja, Dardjat. 1996. Fisiologi
Tumbuhan. Bandung: ITB.
Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Jember: Program Studi Pendidikan Biologi FKIP-UNEJ.
Utama, I Made S. 2007. Pengaruh
Suhu Air dan Lama Waktu Perendaman Beberapa Jenis Sayuran Daun pada Proses Crisping. http://staff.unud.ac.id/~madeutama/wp-content/uploads/
2009/06/7-article-proceeding-revised.pdf Vol. 3: 118 (di akses
31 Oktober 2013).
Winatasusmita, Djamhur. 1997. Fisiologi Hewan dan
Tumbuhan. Jember: Depdikbud UT.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar