Translate

Rabu, 08 Januari 2014

Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi


I.         JUDUL   : Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi

II.      TUJUAN            :
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
III.   DASAR TEORI
Air yang diserap tumbuhan sebagian kecil digunakan untuk proses metabolisme dan dipertahankan di dalam sel untuk membentuk turgor sel, namun sebagian besar akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Hilangnya air ke atmosfer dapat terjadi melalui proses transpirasi, gutasi, sekresi, dan perdarahan. Transpirasi adalah hilangnya air dalam bentuk uap dari batang dan daun tumbuhan hidup. Jumlah yang mengalami penguapan dari batang sangatlah sedikit, kehilangan air terbesar dari proses transpirasi terjadi melalui daun (Hanum, 2008).
Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan,yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Transpirasi adalah proses evaporasi pada tumbuhan (Sasmitamihardja, 1996).
Transpirasi terjadi dalam setiap bagian tumbuhan) tetapi pada umumnya kehilangan air terbesar berlangsung melalui daun-daun. Ada dua tipe transpirasi yaitu :
1.    Transpirasi kutikula yaitu evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis.
2.    Transpirasi stomata yang dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui stomata.  Hampir 97% air dari tanaman hilang melalui transpirasi stomata.
Kutikula daun secara relatif tidak tembus air dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 % atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melalui stomata (Loveless, 1991).
Peristiwa transpirasi biasanya berhubungan dengan kehilangan air-dalam melalui stomata, kutikula, dan lentisel. Banyak air yang harus hilang melalui transpirasi untuk membesarkan tumbuhan karena rangka molekul semua bahan organik pada tumbuhan terdiri dari atom karbon yang harus diperoleh dari atmosfer. Karbon masuk ke dalam tubuh sebagai karbon dioksida melaui pori stomata, yanag paling banyak terdapat pada permukaan daun dan air keluar secara difusi melalui pori yang sama saat stomata terbuka (Salisbury & Ross, 1995)
Teori kehilangan air melalui traspirasi ini disebut juga teori tegangan adhesi dan kohesi Pada sebagian besar tumbuhan, transpirasi umumnya sangat rendah pada malam hari. Transpirasi mulai menaik beberapa menit setelah matahari terbit dan mencapai puncaknya pada siang hari. Transpirasi berhubungan langsung dengan intensitas cahaya (Hanum, 2008).
Salah satu penyebab terjadinya pelayuan adalah karena adanya proses transpirasi atau penguapan air yang tinggi melalui bukaan-bukaan alami seperti stomata, hidatoda dan lentisel yang tersedia pada permukaan dari produk sayuran daun tersebut. Kadar air (85-98%) dan rasio antara luas permukaan dengan berat yang tinggi dari produk memungkinkan laju penguapan air berlangsung tinggi sehingga proses pelayuan dapat terjadi dengan. Selain faktor internal produk, faktor eksternal seperti suhu, kelembaban serta kecepatan aliran udara berpengaruh terhadap kecepatan pelayuan. Mekanisme membuka dan menutupnya bukaan-bukaan alami pada permukaan produk seperti stomata dipengaruhi oleh suhu dari produk. Pada kondisi dimana suhu produk relatif tinggi maka bukaan-buakaan alami cenderung membuka dan sebaliknya pada keadaan suhunya relatif rendah maka buakaan alami mengalami penutupan (Safrizal, 2008).
Tingginya kandungan air produk menyebabkan tekanan uap air dalam produk selalu dalam keadaan tinggi dan bila kelembaban udara atau tekanan uap air di udara rendah maka akan terjadi defisit tekanan uap air yang menyebabkan perpindahan air dari dalam produk ke udara sekitarnya. Bila sebaliknya, tekanan uap air di luar lingkungan produk lebih tingg,i maka akan terjadi pergerakan air dari luar ke dalam produk. Sangat memungkinkan untuk mendifusikan air ke dalam produk semaksimal mungkin untuk menyegarkan kembali dengan mengatur tekanan air serta mengendalikan mekanisme membuka dan menutupnya bukaan alami, dimana proses penyegaran ini dikenal dengan crisping (Utama, 2007: 118).
Transpirasi mempunyai manfaat bagi tanaman antara lain:
  1. Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
  2. Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan yang berlebihan.
  3. Mempercepat laju pengangkutan dan penyerapan unsur hara melalui pembuluh xylem
  4. Menjagaturgiditasseltumbuhan agar tetap pada kondisioptimal
  5. Sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu.
  6. Pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel.
  7. Pengangkutan asimilat.
  8. Pengaturan bukaan stomata.
(Lakitan, 1993).
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat dalam penguapan air dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi dengan ruang antar sel daun merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel biasanya lebih besar daripada udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan keluar dari daun melalui stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per satuan waktu, dengan demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air (Sasmitamihardja, 1996).
Proses transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata (Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan, 2013: 8).
Faktor internal yang mempengaruhi proses transpirasi anatara lain:
1.   Penutupan Stomata : Dengan terbukanya stomata lebih lebar, air yang hilang lebih banyak tetapi peningkatan kehilangan air lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan pelebaran stomata.
2.    Jumlah dan Ukuran Stomata : Kebanyakan daun tanaman yang produktif mempunyai banyak stomata pada kedua sisi daunnya. Jumlah dan ukuran stomata yang dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan
3.   Jumlah Daun : Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi
4.   Penggulungan atau Pelipatan Daun : Banyak tanaman yang mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila perairan terbatas
5.   Kedalaman dan Proliferasi Akar : Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dan proliferasi akar meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan tanaman (Winatasusmita, 1997).
Faktor eksternal yang mempengaruhi proses transpirasi antara lain:
1.   Kelembaban
Udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara yang kering melancarkan transpirasi
2.   Temperatur
Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan temperatur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas maka tekanan uap tidak akan setinggi tekanan uap yang terkurung di dalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air mudah berdifusi dari dalam daun ke udara bebas.
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini akansangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.
3.   Sinar matahari
Sinar matahari menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi.
Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.
4.   Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembanan udara diatas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi
5.   Kandungan air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju absorbsi air di akar. Pada siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari tanah. pada malam hari terjadi sebaliknya.
(Dwijoseputro, 1990).  
Transpirasi ditentukan oleh seberapa besar celah antara 2 sel penutup, sehingga proses-proses yang menyebabkan membuka menutupnya stomata menentukan besarnya transpirasi. Gerak sel penutup terjadi akibat perubahan turgornya, yang berubah karena potensial airnya. Penyebab perubahan potensial air itu diduga karena:
1.      Bertambahnya gula dalam sel penutup sebagai hasil fotosintesis. Meskipun sel penutup mempunyai kloroplas, tetapi produksi gulanya tidak cukup besar untuk menghasilkan efek tersebut.
2.      Perubahan amilum menjadi gula. Teori ini menganggap bahwa dalam gelap CO2 yang mengumpul dalam sel penutup menyebabkan pHnya rendah. Bila terkena cahaya CO2 ini akan berkurang karena fotosintesis sehingga pHnya naik, akibatnya enzim amilase menjadi lebih aktif dan kadar glukosa naik.
3.      Perubahan permeabilitas. Perubahan pH juga dapat menyebabkan permeabilitas membrane sel berubah, sehingga memungkinkan bahan terlarut keluar atau masuk sel penutup. Karena permeabilitas membran plasma sel penutup terhadap air tidak terpengaruh oleh pH, maka bahan terlarut yang menentukan membuka/menutupnya stomata. Yang berperan disini terutama ion K.
4.      Hasil metabolisme langsung. Masuknya ion ke dalam sel penutup menggunakan energi metabolisme menyebabkan potensial air menjadi lebih negatif dan sel penutup menyerap air yang menyebabkan stomata membuka.  
(Sasmitamihardja, 1996).

IV.   METODE PENELITIAN
4.1  Alat dan Bahan
a.       Alat
1.      Gunting tanaman
2.      Ember
3.      Gelas ukur 10 ml
4.      Silet
5.      Kertas grafik
6.      Gelas obyek dan gelas penutup
7.      Rak tabung
8.      Mikroskop
b.      Bahan
1.      Batang/ranting Bauhinia sp.
2.      Batang/ranting Impatiens balsamina
3.      Minyak kelapa
4.      Kuteks bening (cat kuku)
4.2 
Memotong batang/ranting Bauhinia sp. dan Impatiens balsamina di bawah permukaan air
 
Langkah kerja








 


















 



















4.3  Hasil pengamatan
Kel.
Banyaknya stomata
Waktu
Impatiens balsamina
Bauhinia sp.
Vteduh (ml)
Vterik (ml)
Vteduh (ml)
Vterik (ml)
1.
Atas: 16
Bawah: 68
0
5
10
15
20
25
30
8,3
8,3
8,3
8,3
8,3
8,25
8,25
8,8
8,8
8,8
8,8
8,8
8,7
8,6


2.
Atas: 247
Bawah: 60
0
5
10
15
20
25
30


7,6
7,9
7,3
7,2
7,2
7,1
7,05
7
7,2
7,2
7
7
7
7
Volume awal Impatiens balsamina di tempat teduh: 8,3 ml
Volume awal Impatiens balsamina di tempat terik: 8,8 ml
Rata-rata kecepatan volume Impatiens balsamina di tempat teduh:
0 + 0 + 0 + 0 + 0,05 + 0 = 0,05/6 =0,008 ml/5 menit
Rata-rata kecepatan volume Impatiens balsamina di tempat terik:
0 + 0 + 0 + 0 + 0,1 + 0,1 = 0,2/6 = 0,033 ml/5 menit
Volume awal Bauhinia sp. di tempat teduh: 7,6
Volume awal Bauhinia sp. di tempat terik: 7
Rata-rata kecepatan volume Bauhinia sp. di tempat teduh:
-0,3 + 0,6 + 0,1 + 0 + 0,1 + 0,05 = 0,55 ml/5 menit
Rata-rata kecepatan volume Bauhinia sp. di tempat terik:
-0,2 + 0 + 0,2 + 0 + 0 + 0 = 0,4/6 = 0,067 ml/5 menit

V.      PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu tentang penguapan air melalui proses transpirasi. Air yang diserap tumbuhan sebagian kecil digunakan untuk proses metabolisme dan dipertahankan di dalam sel untuk membentuk turgor sel, namun sebagian besar akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Hilangnya air ke atmosfer dapat terjadi melalui proses transpirasi, gutasi, sekresi, dan perdarahan. Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan, yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Transpirasi adalah proses evaporasi pada tumbuhan.
Adapun langkah yang kami lakukan, yang pertama yaitu memotong helai daun Bauhinia sp. dan Impatiens balsamina hingga tinggal 5 daun teratas kemudian memotong batang atau ranting tumbuhan Bauhinia sp. dan Impatiens balsamina di bawah permukaan air untuk menjaga ketersediaan air didalam tumbuhan tersebut. Kemudian mengisi 2 gelas ukur 10 ml dengan air sebanyak 6-7 ml dan memasukkan segera potongan ranting tumbuhan tersebut ke dalam 2 gelas ukur kemudian menetesi dengan minyak kelapa sampai seluruh permukaan tertutup, hal ini dimaksudkan agar air tidak menguap dan mencatat waktu saat memasukkan tubuhan ke dalam gelas ukur. Kemudian meletakkan 1 gelas ukur di tempat terik dan 1 gelas ukur lain di tempat teduh. Setelah itu, mengamati dan mencatat perubahan air yang terjadi pada gelas ukur setiap 5 menit selama 30 menit dengan membaca skala yang ada pada gelas ukur. Kemudian mencatat jumlah air yang diuapkan setiap periode dan menghitung nilai rata-ratanya. Kemudian mengukur luas daun yang digunakan dalam percobaan dengan cara menggambar (menjiplak) daun pada kertas grafik, kemudian menghitung luas daun pada hasil jiplakan pada kertas grafik tersebut. Setelah itu, Mengoleskas kuteks bening pada sisi atas dan bawah daun dan membiarkan beberapa menit hingga mengering untuk mempermudah mengambil stomata dipermukaan epidermis atas dan bawah daun. Kemudian menarik kuteks yang telah mengering tersebut secara hati- hati dan meletakkannya di atas gelas obyek dan memberi sedikit air kemudian menutup  dengan gelas penutup dan mengamati di bawah mikroskop dan mencari diameter stomata dan luas stomata. Kemudian mengkonversikan banyaknya stomata dalam satu luas daun.
            Dari hasil pengamatan diperoleh data laju transpirasi batang pacar air dan Bauhinia. Pada kelompok menggunakan batang pacar air, pada tempat yang teduh volume air yang digunakan dalam gelas ukur  yaitu 8,3 ml. Banyaknya stomata di epidermis atas yaitu 16. Rata-rata kecepatan volumenya 0,008 ml/5 menit. Transpirasi terjadi pada menit ke-25 sebesar 0,05. Sedangkan pada tempat yang terik volume air yang digunakan dalam gelas ukur  yaitu 8,8 ml. Banyaknya stomata di epidermis bawah yaitu 68. Rata-rata kecepatan volumenya 0,033 ml/5 menit. Transpirasi terjadi pada menit ke-25 sebesar 0,1 dan menit ke-30 sebesar 0,1. Perbedaan laju transpirasi pada kedua batang pacar air tersebut dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun dan banyak sedikitnya stomata. Serta faktor luar yaitu radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan angin, dimana pada batang pacar air di tempat teduh radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan anginnya lebih rendah daripada di tempat terik sehingga laju transpirasinya lambat.
Kemudian pada kelompok 2 mengamati ranting Bauhinia sp. pada kondisi didalam ruangan (tempat teduh) volume air yang digunakan dalam gelas ukur  yaitu 7,6 ml. Banyaknya stomata di epidermis atas yaitu 247. Rata-rata kecepatan volumenya 0,55 ml/5 menit. Transpirasi terjadi pada menit ke-10 sebesar 0,6; pada menit ke-15 sebesar 0,1; pada menit ke-25 sebesar 0,1 dan pada menit ke-30 sebesar 0,05. Sedangkan pada tempat yang terik volume air yang digunakan dalam gelas ukur  yaitu 7 ml. Banyaknya stomata di epidermis bawah yaitu 60. Rata-rata kecepatan volumenya 0,067 ml/5 menit. Transpirasi terjadi pada menit ke-15 sebesar 0,2 dan menit ke-30 sebesar 0,1. Volume awal yang digunakan pada tempat teduh di menit ke-0 adalah 7,6 namun pada menit ke-1 menjadi 7,9. Begitu juga volume awal yang digunakan pada tempat terik di menit ke-0 adalah 7 namun pada menit ke-1 menjadi 7,2. Hal ini mungkin terjadi kesalahan perhitungan atau kurangnya ketelitian melihat skala gelas ukur. Perbedaan laju transpirasi pada kedua ranting Bauhinia sp. tersebut dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun dan banyak sedikitnya stomata. Serta faktor luar yaitu radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan angin, dimana  menurut literatur di tempat teduh radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan anginnya lebih rendah maka transpirasinya lebih lambat. Namun dari hasil pengamatan yang diperoleh kelompok 2 pada tempat teduh transpirasinya lebih cepat daripada yang di tempat terik. Hal ini mungkin terjadi kesalahan perhitungan atau kurangnya ketelitian melihat skala gelas ukur. Selain itu, jumlah stomata epidermis daun atas lebih banyak daripada jumlah stomata daun bawah. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, dimana stomata daun bawah lebih banyak daripada stomata epidermis daun atas karena Bauhinia sp. bukan merupakan tumbuhan yang hidup di air stomata epidermis daun atas lebih banyak daripada jumlah stomata daun bawah. Hal ini mungkin terjadi kesalahan saat menarik kuteks dan mengamati di bawah mikroskop atau terbalik saat mengambillapisan kuteks  dan mengamati di bawah mikroskop.
Molekul air akan melakukan tarik menarik dengan molekul air lainnya melalui proses kohesi. Selain itu molekul air juga dapat melakukan tarik menarik dengan dinding xilem melalui proses adhesi. Penguapan air melalui stomata akan menarik kolom air yang ada di dalam xilem, dan molekul air baru akan masuk ke dalam rambut akar. Teori kehilangan air melalui traspirasi ini disebut juga teori tegangan adhesi dan kohesi.
Perbedaan transpirasi yang terjadi pada kedua tumbuhan karena adanya pengaruh faktor dalam dan luar. Beberapa faktor dalam yang mempengaruhi transpirasi antara lain:
1.         Besar kecilnya daun
Besar kecilnya daun sangat berpengaruh dalam transpirasi, semakin luas permukaan daun maka semakin luas pula proses transpirasi, hal ini berkaitan dengan jumlah stomata yang berbanding lurus dengan luas pemukaan daun.
2.      Tebal tipisnya daun
Semakin tebal daun suatu tumbuhan, maka akan semakin lambat laju transpirasinya, sebaliknya jika daun tipis maka transpirasinya semakin cepat. Antara  Bauhinia sp. dan pacar air memiliki tebal daun yang berbeda. Bauhinia sp. memiliki daun yang lebih tebal daripada pacar air.
3.      Berlapis lilin tidaknya daun
Semakin banyak lapisan lilin yang menyelubungi daun atau batang, maka proses transpirasi yang terjadi semakin kecil. Fungsi dari lapisan lilin sendiri untuk mengurangi proses penguapan.
4.      Banyak sedikitnya bulu
Pada tumbuhan yang memiliki lebih banyak bulu atau trikom dapat menghambat proses transpirasi, jadi permukaan tumbuhan yang tidak memiliki alat tambahan (trikom) akan lebih cepat proses transpirasinya.
5.      Banyak sedikitnya stomata
Semakin banyak stomata maka laju transpirasi lebih cepat. Stomata kadang hanya terdapat di bawah permukaan daun, tapi sering ditemukan di kedua permukaan sisi daun, meskipun lebih banyak terdapat dibagian bawah. Pada siang hari, dimana radiasi sinar matahari tinggi akan merangsang tumbuhan untuk dapat menangkap cahaya tersebut sebanyak-banyaknya dengan membuka stomatanya. Terbukanya stomata akan mempercepat proses transpirasi.
Selain faktor dalam, juga terdapat faktor luar yang mempengaruhi transpirasi antara lain:
1.    Radiasi
Semakin banyak radiasi matahari yang diterima akan menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih cepat dan transpirasi juga meningkat.
2.    Temperatur
Naiknya suhu mempengaruhi naiknya evaporasi dan sedikit difusi. Naiknya suhu juga membuat udara membawa lebih banyak kelembaban, maka transpirasi meningkat.
3.    Kelembaban
Bila kelembapan udara rendah maka selisih potensial air antara isi sel dan udara menjadi lebih besar akan mempercepat penguapan dan difusi udara luar.
4.    Tekanan udara
Makin tinggi tekanan udara, proses transpirasi makin terhambat.
5.    Angin
Angin yang kencang menyebabkan peningkatan transpirasi dapat berlangsung.
6.    Keadaan air dalam tanah
Keadaan air dalam tanah sangat berpengaruh dalam proses transpirasi. Semakin banyak air dalam tanah maka tumbuhan akan semakin dalam melakukan proses transpirasi, sebaliknya tumbuhan yang keadaan air tanahnya kurang maka akan berusaha mengurangi proses penguapan.

VI.   PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.    Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan, yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata.
2.      Molekul air akan melakukan tarik menarik dengan molekul air lainnya melalui proses kohesi. Selain itu molekul air juga dapat melakukan tarik menarik dengan dinding xilem melalui proses adhesi. Penguapan air melalui stomata akan menarik kolom air yang ada di dalam xilem, dan molekul air baru akan masuk ke dalam rambut akar. Teori kehilangan air melalui traspirasi ini disebut juga teori tegangan adhesi dan kohesi.
4.        Transpirasi yang terjadi pada tumbuhan karena adanya pengaruh faktor dalam dan luar. Beberapa faktor dalam yang mempengaruhi transpirasi antara lain: besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin tidaknya daun, banyak sedikitnya bulu dan banyak sedikitnya stomata. Faktor dalam yang mempengaruhi transpirasi antara lain: radiasi, temperatur, kelembaban, tekanan udara, angin dan keadaan air dalam tanah.
6.2    Saran
Dalam praktikum seharusnya dilakukan dengan teliti dan cermat agar tidak terjadi kesalahan. Selain itu, dengan jumlah praktikan yang banyak seharusnya mikroskop yang digunakan juga banyak, agar semua praktikan dapat melakukan percobaan dengan maksimal. Dan waktu yang digunakan juga efektif.


















DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.

Hanum, C . 2008 . Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Lakitan, B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada.

Loveless, A.R .1991 .Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: Gramedia.

Safrizal. 2008. Pengaruh Penggenangan Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Cabai. http://ejournal .unisri. ac.id/index.php/innofarm/article/download/247/211  Vol. 3: 62 (di akses 31 Oktober 2013).

Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Sasmitamihardja, Dardjat. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Jember: Program Studi Pendidikan Biologi FKIP-UNEJ.

Utama, I Made S. 2007. Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perendaman Beberapa Jenis Sayuran Daun pada Proses Crisping. http://staff.unud.ac.id/~madeutama/wp-content/uploads/ 2009/06/7-article-proceeding-revised.pdf  Vol. 3: 118 (di akses 31 Oktober 2013).

Winatasusmita, Djamhur. 1997. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan. Jember: Depdikbud UT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar