I.
JUDUL :
Pembuktian Daya Hisap Daun
II.
TUJUAN
Untuk membuktikan bahwa air tanah naik ke daun
disebabkan oleh daya hisap daun dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
III.
DASAR
TEORI
Daya
hisap daun mempunyai peranan penting sehingga air tanah dapat naik keatas.
Beberapa faktor yang mempengaruhi daya hisap daun antara lain terang teduhnya
cahaya, banyak sedikitnya daun, kelembaban udara dan cukupnya air tanah. Air
bergerak secara vertical melalui pembuluh xylem melawan gravitasi. Xylem
terdiri dari empat macam sel yaitu trakeid, unsure pembuluh, serat dan parenkim
xylem. Trakeid dan unsur pembuluh yang tersusun tegak berperan dalam
pengangkutan cairan xylem. Trakeid dan unsur pembuluh adalah sel yang berbentuk
panjang tapi trakeid lebih panjang serta lebih sempit daripada unsure
pembuluh.keduanya berfungsi sebagai unsur mati artinya sesudah terbentuk dari
proses pertumbuhandan diferensiasi sel meristematik, sel itu mati dan
protoplasmanya diserap oleh sel lain. Namun sebelum mati terjadi beberapa
perubahan pada dindingnya yang penting untuk lalu-lalang air. Salah satu
perubahanya adalah terbentuknya dinding sekunder yang sebagian besar terdiri
dari selulosa, lignin, dan hemiselulosa yang menutup sebagian besar dinding
primer (Dwijoseputro, 1990).
Air bergerak secara vertikal melalui pembuluh xylem
melawan gravitasi. Beberapa teori yang menjelaskan kenaikan air dari akar ke
daun yaitu:
- Teori vital
Di dalam
tubuh tanaman, maka xylem merupakan pipa-pipa yang satu sama lain
berhubung-hubungan, meskipun tidak selalu secara langsung. Di dalam pipa-pipa
kapiler itu air naik dari akar ke ujung batang menentang gaya berat dan
disamping itu harus pula mengatasi gesekan dari dinding pipa. Teori vital
mengatakan bahwa, perjalan air semacam itu hanya dapat terlaksana karena
pertolongan sel-sel hidup, di dalam hal ini ialah sel-sel parenkim kayu dan
sel-sel jari-jari empulur yang ada disekitar silem (Dwijoseputro, 1990).
- Tekanan akar
Tekanan akar yaitu tekanan yang terjadi di xylem sebagai
hasil proses aktif. Tekanan akar dopengaruhi oleh faktor-faktor yang
mempengaruhi respirasi (Mudakir, 2004).
- Hukum kapilaritas
Kapilaritas
merupakan interaksi antara permukaan singgung dari suatu bahan cair dan bahan
padat sehingga permukaan zat tersebut berubah bentuk dari datar menjadi agak
mengerut. Kapilaritas menyebabkan naiknya cairan kedalam tabung yang sempit
yang terjadi karena zat cair tersebut membasahi dinding tabung (dengan daya
adhesi) lalu tertarik ke atas (Salisbury, 1995).
Pembuluh
xylem dapat dipandang sebagai pembuluh kapiler sehingga air naik didalamnya
sebagai akibat dari gaya adhesi antara dinding xylem dengan molekul air (Tim
Pembina Fisiologi Tumbuhan, 2013:14).
- Teori kohesi
Molekul
air letaknya berderet-deret mulai dari dalam tanah (system perakaran) sampai
daun, jika molekul air dalam daun meloncat keluar karena transpirasi maka
tempat yang kosong tersebut segera diisi oleh molekul air disampingnya.
Demikian seterusnya hingga molekul air yang tepat diluar bulu akar mendapat
kesempatan untuk masuk ke dalam sel akar (Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan,
2013:14).
Ada tiga
unsur dalam teori kohesi untuk menjelaskan naiknya cairan : daya penggerak,
hidrasi (adesi), dan kohesi air. Daya penggerak adalah gradient potensial air
yang makin menurun (makin negatif) dari tanah melalui tumbuhan ke atmosfer.
Daya hidrasi antara molekul air dan dinding sel disebabkan oleh adanya ikatan
hydrogen, dinamakan adesi yakni daya tarik antar molekul yang tidak sejenis.
Kohesi yang merupakan daya tarik antar molekul sejenis adalah kuncinya. Inilah
daya tarik (jiga akibat adanya ikatan hydrogen) antar molekul air di dalam
lintasan tersebut. Dalam lingkungan khusus itu daya kohesi demikian tinggi (air
mempunyai daya pegang yang besar), sehingga bila air tertarik oleh osmosis dan
penguapan dari titik tertentu di dinding sel pada puncak pohon yang tinggi
tarikan itu berlanjut di sepanjang jalur ke bawah, melalui batang dan akar
sampai ke tanah (Salisbury, 1995).
Kemampuan tanah menahan air secara
maksimal disebut kapasitas lapang, sedang kandungan air tanah minimal yang masih dapat diserap akar
disebut titik layu sementara. Air tanah adalah suatu larutan, karena didalamnya
terlarut berbagai macam garam (ion atau molekul) dan gas. Tergantung kepada
berapa banyak bahan terlarut didalamnya, akar ditentukan konsentrasinya.
Semakin tinggi konsentrasinya, semakin rendah potensial airnya. Adanya
perbedaan tersebut terjadilah proses difusi (Mudakir, 2004).
Defisit air menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan fotosintesis dan
rangkaian fisiologis yang disebabkannya. Proses yang paling dipengaruhi oleh
deficit air adalah pertumbuhan sel. Kondisi stress air yang berat menyebabkan
terhambatnya fotosintesis. Potensial air merupakan suatu ukuran basah atau
keringnya suatu tanaman dan suatu indeks relative dari kondisi stress air yang
sedang dialaminya. Perubahan kandungan relative daun pada saat terjadi
kekeringan menunjukkan perubahan volume sel atau kehilangan air dari jaringan
tanaman. Defisit air juga mengurangi pertumbuhan dan mempengaruhi pengambilan
nutrisi dari dalam tanah karena buruknya aktivitas akar. Berkurangnya
pertumbuhan juga berhubungan dengan tekanan osmotic di dalam sel tanaman. Rendahnya
potensial air di dalam tanah harus diimbangi dengan tekanan osmotic yang rendah
pada sel tanaman untuk menjaga tekanan turgor (Charloq dan Setiado, 2005: 52).
Beberapa faktor yang yang dapat
menyebabkan terjadinya daya hisap daun dan daya tekan akar adalah sebagai
berikut:
1.
Tekanan akar:
berdasarkan fakta bahwa jika batang tanaman dipotong dan kemudian dihubungkan dengan selang manometer air raksa, maka air di dalam
selang itu akan terdorong ke atas oleh tekanan yang berasal dari akar.
2.
Kapilaritas:
merupakan gejala yang timbul akibat interaksi antara permukaan benda padat
dengan benda cair yang menyebabkan gangguan terhadap bentuk permukaan cairan
yang semula datar, misalnya di dalam pipa yang kecil, permukaan cairan menjadi
naik, karena cairan tersebut ditarik oleh dinding bagian dalam pipa oleh gaya
adhesi
3.
Sel pemompa:
pergerakan vertikal air dari akar ke daun adalah karena adanya peranan sel-sel
khusus yang berfungsi memompa air ke atas, hal ini dibuktikan dengan adanya
hasil penelitian, dimana pergerakan vertikal air sebagian besar melalui bagian
yang mati dari tanaman (pembuluh xilem dan dinding sel), bukan melalui bagian
sel-sel yang hidup.
4.
Kohesi:
penyerapan vertikal air dalam tanaman dapat dijelaskan dengan tiga elemen atau
konsep kohesi yaitu: adanya perbedaan potensi air antara tanah dan atmosfer
sebagai tenaga pendorong, adanya tenaga hidrasi dinding pembuluh xilem yang
mampu mempertahankan molekul air terhadap gravitasi dan adanya gaya kohesi
antara molekul air yang menjaga keutuhan kolom air dalam pembuluh xilem
(Gardner,
1991).
Faktor dalam yang mempengaruhi penyerapan air (disebut juga faktor tumbuhan) yaitu :
1. Kecepatan
transpirasi : penyerapan air hamper setara dengan transpirasi (penguapan lewat
daun) bila penyediaan air tanah cukup. Hal ini terjadi karena adanya
transpirasi menyebabkan daya hisap daun sebagai akibat kohesi yang diteruskan
lewat system hidrostatik pada xilem. Kecepatan transpirasi antara lain
ditentukan oleh banyaknya stomata dan keadaan permukaan daun.
2. Sistem
perakaran : berbagai tumbuhan menunjukkan perakaran yang berbeda, baik pada
pertumbuhan maupun kemampuannya menembus tanah. Karena penyerapan terutama
berlangsung di bulu akar, maka jumlah bulu akar yang terutama terjadi akibat
percabangan akar, menentukan penyerapan. Tumbuhan yang mempunyai akar dengan
perakaran yang sempit disebut mempunyai perakaran intensif. Sebaliknya yang
akarnya sedikit tetapi tumbuhan memanjang dan masuk jauh kedalam tanah disebut
perakaran ekstensif.
3. Pertumbuhan
pucuk : bila bagian pucuk tumbuh baik, akan memerlukan banyak air, menyebabkan
daya serap bertambah.
4. Metabolisme
: karena penyerapan memerlukan tenaga metabolisme, maka kecepatan metabolisme
terutama respirasi akan menentukan besarnya penyerapan. Metabolisme yang juga
memungkinkan pertumbuhan akar lebih baik, sehingga makin banyak cabang
akar/buluh akara yan terbentukan
(Mudakir,
2004).
Faktor luar yang mempengaruhi penyerapan air yaitu :
1. Ketersediaan
air tanah : tumbuhan dapat menyerap air tanah bila kandungan air tanah terletak
antara kapasitas lapang, penyerapan akan terhambat karena akar berada dalam
lingkungan anaerob.
2. Konsentrasi/potensial
osmotic air tanah : karena ke dalam air tanah terlarut berbagai ion dan molekul
maka potensial osmotiknya akan berubah bila yang larut berkurang atau
bertambah. Bila ion atau molekul yang larut terlalu banyak sehingga potensial
osmotiknya terlalu tinggi, tumbuhan halofit mampu menyerap air dari larutan
dengan potensial osmotic yang lebih besar dari tumbuhan halofit.
3. Temperatur
tanah : temperatur berhubungan terhadap penyerapan melalui berbagai cara yaitu
bia temperature rendah, air menjadi lebih kental sehingga sukar bergerak,
perbilitas plasma berkurang dan pertumbuhan akar terhambat.
4. Aerasi :
aerasi yang tidak baik menghambat respirasi aerob sehingga energi untuk
penyerapan berkurang. Bila respirasi anaerob terjadi, hasil akhir berupa
alcohol yang dapat melarutkan lipoprotein membrane plasma sehingga akar busuk.
Aerasi yang jelek juga menyebabkan kadar CO2 naik, pH larutan tanah turun,
kekentalan protoplasma naik dan permeabilitas akar terhadap air berkurang
(Mudakir, 2004).
Cekaman air yang parah dapat menyebabkan penutupan stomata,
yang mengurangi pengambilan karbondioksida dan produksi berat kering. Cekaman
kekeringan terjadi penurunan laju fotosintesis yang disebabkan oleh penutupan
stomata dan terjadinya penurunan transport elektron dan kapasitas fosforilasi
didalam kloroplas daun. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan menunjukan pertumbuhan
lambat dan daun sempit serta buku batang yang pendek sehingga penampilan
tanaman akan kerdil dengan daun kecil, cepat berbunga, defisiensi unsur hara
baik makro maupun mikro dan potensi hasil yang rendah (Purwanto, 2010: 86).
IV.
METODE
PENELITIAN
4.1 Alat
dan Bahan
Ø Alat
1. Photometer
2. Beaker
glass
3. Stop
watch
4. Pipet
tetes
5. Cutter
6. Baskom
Ø Bahan
1.
Tumbuhan pacar air beserta daunnya
2.
Air
3.
Plastisin
4.
Eosin
4.2 Skema
kerja
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
4.3 Hasil
Pengamatan
|
Waktu pengamatan
|
5
daun
|
7
daun
|
10
daun
|
|||
|
Teduh
|
Terik
|
Teduh
|
Terik
|
Teduh
|
Terik
|
|
|
5 menit
|
0,035
|
0,025
|
0,02
|
0,55
|
0,15
|
0,6
|
|
10 menit
|
0,065
|
0,09
|
0,05
|
0,085
|
0,20
|
1,4
|
|
15 menit
|
0,1
|
0,16
|
0,06
|
0,14
|
0,24
|
2,1
|
|
20 menit
|
0,13
|
0,245
|
0,08
|
0,19
|
0,29
|
2,9
|
|
25 menit
|
0,17
|
0,33
|
0,11
|
0,26
|
0,34
|
3,9
|
|
Kec.rata-rata
|
0,03375
|
0,0725
|
0,0225
|
0,0512
|
0,0475
|
0,825
|
Kecepatan rata-rata = ∑ selisih volume /
banyak rentang
1. Tanaman
Pacar Air (Impatiens balsamina)
berdaun 5:
Ø Teduh : 0,035 + 0,065 + 0,1 +
0,13 + 0,17 = 0,03375
Ø Terik
: 0,025 + 0,09 + 0,16 + 0,245 + 0,33 =
0,0725
2. Tanaman
Pacar Air (Impatiens balsamina)
berdaun 7:
Ø Teduh : 0,02 + 0,05 + 0,06 +
0,08 + 0,11 = 0,0225
Ø Terik : 0,55 +
0,085 + 0,14 + 0,19 + 0,26 = 0,0512
3. Tanaman Pacar
Air (Impatiens balsamina) berdaun 10:
Ø Teduh : 0,15
+ 0,20 + 0,24 + 0,29 + 0,34 = 0,0475
Ø Terik : 0,6
+ 1,4 + 2,1 + 2,9 + 3,9 = 0,825
V.
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan
tentang Pembuktian Daya Hisap Daun. Tujuan praktikum ini adalah untuk
membuktikan bahwa air tanah naik ke daun disebabkan oleh daya hisap daun dan
faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Daya hisap daun mempunyai peranan penting sehingga air tanah dapat
naik keatas. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya hisap daun antara lain
terang teduhnya cahaya, banyak sedikitnya daun, kelembaban udara dan cukupnya
air tanah. Air bergerak secara vertical melalui pembuluh xylem melawan
gravitasi. Pada percobaan yang kami lakukan kami menggunakan tumbuhan Impatiens balsamina. Langkah pertama
yang dilakukan adalah menyiapkan unit photometer kemudian menyumbat
dengan plastisin di setiap sambungan pipa dan salah satu ujung pipa Y sampai
rapat untuk
mencegah kebocoran dan penguapan air selain melalui tumbuhan.
Selanjutnya menyiapkan ranting tumbuhan dengan ukuran yang sesuai
dengan lubang karet pipa Y, dan memotong ranting tumbuhan
di dalam air untuk mencegah ruang udara pada pembuluh xilem. Kemudian
memasukkan air ke dalam pipa Y, kemudian ranting tumbuhan yang telah dipotong dimasukkan
ke dalam pipa Y sampai pangkal terendam air dan merapatkan pipa yang di isi
tumbuhan tersebut dengan plastisin. Selanjutnya memasukkan eusin di ujung pipa
kapiler dan mengamati berapa jumlah air yang dihisap daun dengan melihat
gerakan eusin dalam pipa kapiler setiap 5 menit. Pengamatan ini dilakukan di
tempat teduh dan di tempat terik.
Berdasarkan
hasil pengamatan untuk tanaman pacar air (Impatiens
balsamina) berdaun 5 di tempat teduh pada menit ke 5 eosin bergerak
menunjukkan skala 0,035, menit ke 10 pada skala 0,065, menit ke 15 pada skala
0,1, menit ke 20 pada skala 0,13, menit ke 25 pada skala 0,17. Sedangkan pada
tempat yang terik menit ke 5 eosin bergerak menunjukkan skala 0,025, menit ke
10 pada skala 0,09, menit ke 15 pada skala 0,16, menit ke 20 pada skala 0,245,
menit ke 25 pada skala 0,33.
Untuk
tanaman pacar air (Impatiens balsamina)
berdaun 7 di tempat teduh pada menit ke 5 eosin bergerak menunjukkan skala
0,02, menit ke 10 pada skala 0,05, menit ke 15 pada skala 0,06, menit ke 20
pada skala 0,08, menit ke 25 pada skala 0,11. Sedangkan pada tempat yang terik
menit ke 5 eosin bergerak menunjukkan skala 0,055, menit ke 10 pada skala
0,085, menit ke 15 pada skala 0,14, menit ke 20 pada skala 0,19, menit ke 25
pada skala 0,26.
Untuk
tanaman pacar air (Impatiens balsamina)
berdaun 10 di tempat teduh pada menit ke 5 eosin bergerak menunjukkan skala
0,15, menit ke 10 pada skala 0,20, menit ke 15 pada skala 0,24, menit ke 20
pada skala 0,29, menit ke 25 pada skala 0,34. Sedangkan pada tempat yang terik
menit ke 5 eosin bergerak menunjukkan skala 0,6, menit ke 10 pada skala 1,4,
menit ke 15 pada skala 2,1, menit ke 20 pada skala 2,9, menit ke 25 pada skala
3,9.
Dari
hasil percobaan tersebut bahwa terdapat faktor eksternal yang mempengaruhi
kecepatan daya hisap daun yaitu pada tempat terik daya hisap daun lebih cepat
dibanding tempat teduh. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa daya
hisap daun pada tempat terang umumnya akan lebih cepat bila dibandingkan dengan
daya hisap daun tanaman pada tempat yang teduh. Hal ini dikarenakan pada tempat
yang terang (terik) intensitas cahaya yang dimiliki yaitu cukup tinggi sehingga
proses fotosintesis akan berlangsung cepat, dengan demikian maka air yang
dibutuhkan pada tempat yang terik akan lebih banyak. Selain itu faktor
eksternal yang mempengaruhi laju daya hisap daun suatu tanaman selain teduh
teriknya suatu daerah juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban.
Suhu
dan kelembaban juga memiliki pengaruh terhadap daya hisap daun. Pada suhu yang
lebih tinggi daun memiliki daya hisap daun yang lebih besar. Hal ini dapat
terjadi karena suhu dan kelembaban memiliki pengaruh terhadap proses
transpirasi yaitu dengan tujuan untuk membuang kelebihan panas yang diterima
dari lingkungan luar, untuk mencegah kerusakan sel-sel luar dari tanaman.
Sedangkan bila kelembaban udara lebih rendah, maka akan mempercepat juga proses
transpirasi. Kelembaban yang rendah memakasa air yang ada pada rongga jaringan
bunga karang yang jenuh untuk mengeluarkan kelebihan airnya. Proses transpirasi
yang cepat memaksa air yang ada dalam tanah untuk naik kedaun, menggantikan
ruangan kosong dari tempat air yang telah menguap.
Selain
faktor eksternal, daya hisap daun juga dipengaruhi oleh faktor internal yaitu
jumlah daun, berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka di dapatkan hasil
untuk tanaman pacar air (Impatiens
balsamina) berdaun 5 kecepatan rata-rata dalam menghisap air yaitu sebesar
0,03375 ml/ 5 menit untuk tempat teduh sedangkan untuk tempat terik kecepatan
rata-rata sebesar 0,0725 ml/ 5 menit, untuk berdaun 7 kecepatan rata-rata dalam
menghisap air yaitu sebesar 0,0225 ml/ 5 menit untuk tempat teduh sedangkan
untuk tempat terik kecepatan rata-rata sebesar 0,0512 ml/ 5 menit, untuk
berdaun 10 kecepatan rata-rata dalam menghisap air yaitu sebesar 0,0475 ml/ 5
menit untuk tempat teduh sedangkan untuk tempat terik kecepatan rata-rata
sebesar 0,825 ml/5 menit. Dari kecepatan rata-rata tersebut, berarti jumlah
daun yang banyak mempengaruhi kecepatan daya hisap daun meskipun ada beberapa
yang malah sebaliknya yaitu jumlah daun 7 malah lebih lambat dibanding 5. Namun
jumlah daun 10 lebih cepat dibanding 5 dan 7 pada kondisi teduh dan terik. Hal
ini bisa saja terjadi karena selain banyaknya jumlah daun, lebar dan luas
permukaan daun pada tanaman juga mempengaruhi kecepatan daya hisap daun, dimana semakin luas permukaan daun maka
proses fotosintesis akan berlangsung lebih cepat karena banyak nya stomata,
akibatnya maka akan banyak air yang diserap untuk fotosintesis, sehingga laju
daya hisap daun akan lebih tinggi. Bisa saja daun yang digunakan pada daun
berjumlah 7 lebih sempit sehingga daya hisap nya lebih lambat dibandingkan
dengan daun berjumlah 5. Tetapi secara rata-rata dapat dilihat daun berjumlah
10 lebih cepat dibanding daun berjumlah 5 maupun 7.
Faktor lain yang berpengaruh adalah panjang
pendeknya serta besar kecilnya batang, dan umur tanaman/ umur daun serta
ketersediaan air. Batang yang besar dan panjang dapat menampung air yang banyak sehingga daya hisap
daun harus tinggi untuk mengalirkan air dari batang tersebut ke daun tetapi
bila jarak antara daun dengan air terlalu jauh yang dibatasi oleh batang yang
tinggi maka daya hisap daunya semakin rendah, begitu pula pada umur daun.
Ketersediaan air juga mempengaruhi daya hisap daun, jika ketersediaan air
banyak maka daya hisap daun tinggi dan begitu sebaliknya.
VI.
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.
Daya hisap daun mempunyai peranan penting sehingga air
tanah dapat naik ke atas.
2.
Daya hisap daun
pada suatu tanaman dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal dari
tanaman itu sendiri.
3.
Faktor
eksternal yang mempengaruhi daya hisap daun meliputi
banyaknya intensitas cahaya yang mengenai daun, suhu, kelembapan dan cukupnya air
tanah.
4.
Faktor internal yang mempengaruhi daya hisap daun meliputi jumlah
daun, lebar dan luas tidaknya permukaan daun.
6.2 Saran
Dalam praktikum
seharusnya dilakukan dengan teliti dan cermat agar tidak terjadi kesalahan.
Kemudian untuk photometer yang rusak, seharusnya diganti agar dalam percobaan
alatnnya tidak bergantintian dengan kelompok lain sehingga waktunya lebih
efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Charloq dan Hot Setiado. 2005. Analisis
Stress Air terhadap Pertumbuhan Karet Unggul (Hevea brasiliensis Muell. Arg). Jurnal
komunikasi penelitian Vol. 17 (6),
2005, hal. 52.
Dwidjoseputro, D. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Gardner, F.P., R. E. Pearce., & R. I. Mitchell.
1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Jakarta: UI press.
Mudakir, Imam. 2006. Fisiologi Tanaman. Jember
: Universitas Jember Press.
Purwanto. 2010. Kajian Fisiologi Tanaman Kedelai Pada
Berbagai Kepekatan Gulma Teki dalam Kondisi Cekaman Kekeringan. Jurnal Agroland
17 (2): 85-90.
Salisbury&Cleon. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB.
Tim Pembina
Fisiologi Tanaman. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Jember: Universitas
Jember Press.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar