Bakteri
yang menguntungkan di bidang industri
1. Bidang
industri makanan
a. Bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus dalam Proses Produksi Yogurt
Lactobacillus adalah genus bakteri gram-positif, anaerobik fakultatif atau mikroaerofilik. Genus bakteri ini membentuk
sebagian besar dari kelompok bakteri asam laktat, dinamakan demikian karena kebanyakan anggotanya
dapat merubah laktosa dan gula lainnya menjadi asam laktat. Kebanyakan
dari bakteri ini umum dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Dalam manusia,
bakteri ini dapat ditemukan di dalam vagina dan sistem pencernaan, dimana
mereka bersimbiosis dan
merupakan sebagian kecil dari flora usus. Banyak spesies dari Lactobacillus
memiliki kemampuan membusukkan materi tanaman yang sangat baik. Produksi asam
laktatnya membuat lingkungannya bersifat asam dan mengganggu pertumbuhan
beberapa bakteri merugikan. Beberapa anggota genus ini telah memiliki genom sendiri.
Prinsip
pembuatan yoghurt adalah fermentasi susu dengan menggunakan bakteri Lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Kedua macam bakteri
tersebut akan menguraikan laktosa (gula ásusu) menjadi asam laktat dan berbagai
komponen aroma dan citarasa. Lactobacillus bulgaricus lebih berperan pada
pembentukan aroma, sedangkan Streptococcus thermophilus lebih berperan pada
pembentukan citarasa yoghurt. Yoghurt yang baik mempunyai total asam laktat
sekitar 0,85-0,95%. Sedangkan derajat keasaman (pH) yang sebaiknya dicapai oleh
yoghurt adalah sekitar 4,5.
Proses
fermentasi yoghurt berlangsung melalui penguraian protein susu. Sel-sel bakteri
menggunakan laktosa dari susu untuk mendapatkan karbon dan energi dan memecah
laktosa tersebut menjadi gula sederhana yaitu glukosa dan galaktosa dengan
bantuan enzim β-galaktosidase. Proses fermentasi akhirnya akan mengubah glukosa
menjadi produk akhir asam laktat.
Laktosa →
Glukosa+Galaktosa →Asam piruvat → Asam laktat+CO¬¬2+H2O
Adanya asam
laktat memberikan rasa asam pada yoghurt. Hasil fermentasi susu ini merubah
tekstur susu menjadi kental. Hal ini dikarenakan protein susu terkoagulasi pada
suasana asam, sehingga terbentuk gumpalan. Proses ini memakan waktu 1-3 hari
yang merupakan waktu tumbuh kedua bakteri, dan bekerja menjadi 2 fasa, kental
dan bening encer dan rasanya asam.
Setelah
diketemukannya jenis bakteri Lactobacillus yang sifat-sifatnya dapat
bermanfaat bagi manusia dan dapat dibuat menjadi yoghurt, maka berkembanglah
industri pembuatan yoghurt. Yoghurt ini dibuat dari susu yang difermentasikan
dengan menggunakan bakteri Lactobacillus, pada suhu 40 derajat celcius selama
2,5 jam sampai 3,5 jam. Asam laktat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut dapat
mengubah susu menjadi yogurt yang melalui proses fermentasi.
b. Fermentasi
mentega oleh bakteri Streptococcus lactis
Mentega
adalah dairy product yang diperoleh dengan churning (mengaduk) krim
susu sampai mengeras. Lemak susu di dalam susu berbentuk butiran mikro yang
diselimutimembran fosfolipid yang memisahkan butiran lemak susu satu dengan
yang lain. Proses churning ini menghancurkan lapisan membran sehingga
butiran-butiran lemak susu bergabung membentuk padatan. Bahan utama pembuatan
mentega adalah krim yang memiliki kadar lemak antara 25 -45%. Krim diperoleh
dari susu sapi dengan menggunakan alat separator. Tahap pertama pembuatan
mentega adalah standarisasi komposisi krim yang dilanjutkan dengan
proses pasteurisasi krim (pasteurisasi adalah proses membunuh
mikroorganisme patogen dansebagian mikroorganisme perusak dengan menggunakan
pemanasan). Setelah dipasteurisasimaka krim
didinginkan, setelah itu tergantung pada jenis mentega yang akan dibuat, akan
adatiga jalur proses.Jalur yang pertama, mentega dibuat dari krim asam,
atau yang disebut dengancultured-cream butter. Proses ini berlangsung dengan
cara memfermentasikan bakteri Lactococcus lactis subsp. Lactis pada krim yang
ditumbuhkan didalam krim. Pada proses ini,media yang digunakan adalah krimnya
itu sendiri sehingga bakteri tidak perlu ditanam dala starter terlebih
dahulu, akan tetapi langsung ditanam kedalam krim.
c. Fermentasi
terasi
oleh bakteri Lactobacillus sp.
Lactobacillus sp.
biasanya digunakan untuk pembuatan terasi. Terasi biasanya terbuat dari udang
kecil (rebon), ikan kecil ataupun teri. Proses pembuatan terasi dilakukan
secara fermentasi. Rebon yang telah kering ditumbuk dan dicampur dengan bahan
lain kemudian diperam selama 3-4 minggu. Selama fermentasi, protein diekstrak
menjadi turunan-turunanya seperti pepton, peptida dan asam amino. Fermentasi
juga menghasilkan amonia yang menyebabkan terasi berbau merangsang.
d.
Fermentasi kefir oleh bakteri Lactobacillus cefir
Ada beberapa
jenis lactobacillus yang juga berperan dalam pembuatan kefir. Bakteri yang
berperan antara lain: Lactocococcus lactis, Lactobacillus acidophilus,
Lactobacillus kefir, Lactobacillus kefirgranum, Lactobacillus parakefir. Semua
bakteri tadi merupakan bibit kefir dan berfungsi sebagai penghasil asam laktat
dari laktosa. Sedangkan Lactobacillus kefiranofaciens berperan sebagai
pembentuk lendir (matriks butiran kefir).
e. Fermentasi nata de coco oleh
bakteri Acetobacter xylinum
Jenis
Acetobacter yang terkenal perannya dalam pengolahan makanan adalah Acetobacter xylinum yang berperan dalam
pembuatan nata de coco. Bakteri ini disebut juga dengan bibit nata. Bakteri
akan membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah asam.
Dalam kondisi tersebut, bakteri akan menghasilkan enzim yang dapat membentuk
zat gula menjadi serat atau selulosa. Dari jutaan bakteri yang tumbuh pada air
kelapa tersebut akan dihasilkan jutaan benang-benang selulosa yang akan memadat
dan menjadi lembaran-lembaran putih yang disebut nata.
2. Bidang
industri minuman
a.
Bakteri Acetobacter etanol untuk produk tuak
Tuak
merupakan minuman tradisional yang mengandung alkohol (etil alkohol), sehingga
apabila diminum terlalu banyak dapat menyebabkan mabuk. Keberadaan Tuak di Bali
selain sebagai minuman, tuak juga tidak terlepas dari upacara keagamaan. Tuak
di Bali digunakan sebagai sajian yaitu sebagai tabuhan bersama dengan minuman
lainnya seperti arak dan brem
Tuak berbeda dengan arak, dimana tuak tidak tahan lama. Tuak paling enak diminum ketika baru diturunkan dari pohonnya. Tuak yang tersimpan lebih dari tiga hari akan menjadi cuka. Tuak yang baru turun dari pohonnya akan terasa manis. Maka untuk membuat rasanya lebih gurih, tuak dicampur dengan ramuan khusus yang disebut lau. Secara umum lau berpengaruh pada rasa dan kadar alkohol tuak. Lau yang digunakan sebagai campuran nira berbeda-beda di setiap daerah, dimana ada yang menggunakan sabut kelapa dan kulit tanaman cabai (tabia bun).
Rasa manis pada tuak disebabkan karena adanya gula-gula reduksi seperti dextrose, fruktosa, dan sukrosa. Rasa manis dari tuak lama-kelamaan akan hilang atau akan berkurang karena gula yang terdapat dalam tuak akan segera difermentasi oleh mikroorganisme menjadi alcohol dan karbondioksida. Hal inilah yang menyebabkan rasa tuak menjadi keras, atau disebut dengan tuak wayah. Dengan berlangsungnya kegiatan fermentasi oleh mikroorganisme terhadap tuak maka akan terjadi perubahan kimiawi pada tuak.
Pembuatan tuak tidak terlepas dari proses fermentasi. Fermentasi adalah suatu proses penghasilan energi utama dari berbagai mikroorganisme yang hidup dalam keadaan anaerob. Dalam keadaan anaerob asam piruvat tidak dirubah menjadi Asetil-KoA tetapi akan dirubah menjadi etanol (etil alcohol) dalam 2 langkah. Langkah pertama dengan melepaskan CO2 dari piruvat, yang diubah menjadi senyawa asetal dehida berkarbon 2. Dalam langkah kedua, asetal dehida direduksi oleh NADH menjadi etanol. Hal ini bertujuan untuk meregenerasi pasokan NAD+ yang dibutuhkan untuk glikolisis.
Enzim yang mengkatalisis adalah karboksilase dan dehidrogenase. Dalam fermentasi glukosa menjadi alkohol hanya dihasilkan 2-ATP. Respirasi dilakukan secara anaerob yang secara umum dikatakan sebagai fermentasi seperti yang telah diungkap diatas bahwa kandungan tuak dan wujud dalam keadaan cair sangat baik untuk pertumbuhan mikroba. Saccharomyces dalam keadaan anaerob akan mengubah gula menjadi senyawa etanol dan karbondioksida. Oleh bakteri Acetobacter etanol akan dirubah menjadi asam cuka dan air dalam keadaan aerob.
Adapun reaksi perubahan glukosa menjadi alcohol dan alcohol menjadi asam asetat sebagai berikut.
Tuak berbeda dengan arak, dimana tuak tidak tahan lama. Tuak paling enak diminum ketika baru diturunkan dari pohonnya. Tuak yang tersimpan lebih dari tiga hari akan menjadi cuka. Tuak yang baru turun dari pohonnya akan terasa manis. Maka untuk membuat rasanya lebih gurih, tuak dicampur dengan ramuan khusus yang disebut lau. Secara umum lau berpengaruh pada rasa dan kadar alkohol tuak. Lau yang digunakan sebagai campuran nira berbeda-beda di setiap daerah, dimana ada yang menggunakan sabut kelapa dan kulit tanaman cabai (tabia bun).
Rasa manis pada tuak disebabkan karena adanya gula-gula reduksi seperti dextrose, fruktosa, dan sukrosa. Rasa manis dari tuak lama-kelamaan akan hilang atau akan berkurang karena gula yang terdapat dalam tuak akan segera difermentasi oleh mikroorganisme menjadi alcohol dan karbondioksida. Hal inilah yang menyebabkan rasa tuak menjadi keras, atau disebut dengan tuak wayah. Dengan berlangsungnya kegiatan fermentasi oleh mikroorganisme terhadap tuak maka akan terjadi perubahan kimiawi pada tuak.
Pembuatan tuak tidak terlepas dari proses fermentasi. Fermentasi adalah suatu proses penghasilan energi utama dari berbagai mikroorganisme yang hidup dalam keadaan anaerob. Dalam keadaan anaerob asam piruvat tidak dirubah menjadi Asetil-KoA tetapi akan dirubah menjadi etanol (etil alcohol) dalam 2 langkah. Langkah pertama dengan melepaskan CO2 dari piruvat, yang diubah menjadi senyawa asetal dehida berkarbon 2. Dalam langkah kedua, asetal dehida direduksi oleh NADH menjadi etanol. Hal ini bertujuan untuk meregenerasi pasokan NAD+ yang dibutuhkan untuk glikolisis.
Enzim yang mengkatalisis adalah karboksilase dan dehidrogenase. Dalam fermentasi glukosa menjadi alkohol hanya dihasilkan 2-ATP. Respirasi dilakukan secara anaerob yang secara umum dikatakan sebagai fermentasi seperti yang telah diungkap diatas bahwa kandungan tuak dan wujud dalam keadaan cair sangat baik untuk pertumbuhan mikroba. Saccharomyces dalam keadaan anaerob akan mengubah gula menjadi senyawa etanol dan karbondioksida. Oleh bakteri Acetobacter etanol akan dirubah menjadi asam cuka dan air dalam keadaan aerob.
Adapun reaksi perubahan glukosa menjadi alcohol dan alcohol menjadi asam asetat sebagai berikut.
Saccharomyces
————->C6H12O6
2 C2H5OH + 2CO2
Acetobacter
Acetobacter
C2H5OH + O2
———-> CH3COOH + H2O
KESIMPULAN
1.
Bakteri
Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus
thermophillus menghasilkan
produk Yogurt
2.
Bakteri Streptococcus lactis untuk fermentasi mentega
3.
Bakteri Lactobacillus sp. untuk
fermentasi terasi
4.
Bakteri Lactobacillus
cefir untuk
fermentasi kefir
5.
Bakteri Acetobacter
xylinum untuk
fermentasi nata de coco
6.
Bakteri Acetobacter etanol untuk produk tuak
SUMBER
Apriadi, Muhandi. 2011. Kontribusi
penting bakteri. http://pengujiankadanpengendalian.
blogspot.com
/2011/01/kontribusi-penting-bakteri.html ( 19 Mei
2013 )
David, Rafi. 2009. Kupas tuntas
dunia yoghurt dan prospek usahanya disaat ini dan masa mendatang. http://organikganesha.wordpress.com/2009/10/02/kupas-tuntas-dunia-yoghurt-dan-prospek-usahanya-di-saat-ini-dan-masa-mendatang/milk2/ ( 19 Mei 2013 )
Krisno, Agus. 2011. Peran
bioteknologi pangan pada proses fermentasi mikroorganisme guna memenuhi gizi
seimbang bagi masyarakat . http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/
01/15/peran-bioteknologi-pangan-pada-proses-fermentasi-mikroorganisme-guna-memenuhi-gizi-seimbang-bagi-masyarakat/ ( 19 Mei 2013 )



Tidak ada komentar:
Posting Komentar