Translate

Sabtu, 15 Februari 2014

Penyesuaian Hewan Poikilotermik Terhadap Oksigen Terlarut



I.         JUDUL   : Penyesuaian Hewan Poikilotermik Terhadap Oksigen Terlarut

II.      TUJUAN
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui penyesuaian hewan poikilotermik terhadap :
1.      Oksigen yang terkandung di dalam air karena pengaruh suhu air
2.      Oksigen yang terkandung di dalam air karena pengaruh kadar garam dalam air

III.   DASAR TEORI
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut. Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Tunas, 2005).
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan. Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Air memiliki beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air daripada di udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang sempit (Soetjipta, 1993).
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungan sekelilingnya. Sebagai hewan air, ikan memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan (Fujaya, 2004).
Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air, beberapa spesies mampu hidup pada suhu air mencapai 290C, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas (Sukiya, 2005)
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Hal tersebut dapat diamati dari perubahan gerakan operculum ikan. Kisaran toleransi suhu antara spesies ikan satu dengan lainnya berbeda, misalnya pada ikan salmonid suhu terendah yang dapat menyebabkan kematian berada tepat diatas titik beku, sedangkan suhu tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis ikan (Tunas, 2005).
Setiap kali mulut dibuka, maka air dari luar akan masuk menuju farink kemudian keluar lagi melalui melewati celah insang, peristiwa ini melibatkan kartilago sebagai penyokong filamen ikan. Selanjutnya Sukiya menambahkan bahwa lamella insang berupa lempengan tipis yang diselubungi epitel pernafasan menutup jaringan vaskuler dan busur aorta, sehingga karbondioksida darah dapat bertukar dengan oksigen terlarut di dalam air (Sukiya, 2005).
Organ insang pada ikan ditutupi oleh bagian khusus yang berfungsi untuk mengeluarkan air dari insang yang disebut operculum yang membentuk ruang operkulum di sebelah sisi lateral insang. Laju gerakan operculum ikan mempunyai korelasi positif terhadap laju respirasi ikan (Sukiya, 198).
Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut
a. Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b. Kecepatan reaksi kimia meningkat
c. Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
(Kanisius, 2005).
Peningkatan suhu air dapat menyebabkan penurunan kelarutan gas-gas, tetapi meningkatkan solubilitas senyawa-senyawa toksik seperti polutan minyak mentah dan pestisida, serta meningkatkan toksisitas logam berat, sebagai contoh bahwa pada air tawar (salinitas 0%) peningkatan suhu dari 25 menjadi 300C menyebabkan penurunan kelarutan oksigen dari 8,4 menjadi 7,6 mg/liter (Tunas, 2005).
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang. Misalnya stres yang ditandai tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal, sedangkan suhu rendah mengakibatkan ikan menjadi rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Tunas, 2005).
Suhu perairan sangat berpengaruh terhadap laju metabolisme dan proses-proses biologis ikan. Ditunjukkan bahwa aktivitas enzim pencernaan karbohidrase sangat dipengaruhi oleh suhu, aktivitas protease tertinggi dijumpai pada musim panas, adapun aktivitas amilase tertinggi dijumpai pada musim gugur (Tunas, 2005).
Oksigen merupakan gas yang tidak berbau, tidak berasa dan hanya sedikit larut dalam air. Semua organisme air membutuhkan oksigen dalam hidupnya. Sehingga, tempat yang mengandung oksigen sellau terdapat organisme di dalamnya dan makin banyak oksigen terlarut di daerah tersebut, maka makin banyak organisme yang ada di dalmnya. Jadi kadar oksigen terlarut dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas air (Hutagalung, 1988).
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemmapuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air, dimana jumlahnya tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya, dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Oksigen terlarut dalam laut dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme. Konsentrasi oksigen terlarut dlaam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer (Hutagalung, 1988).
Oksigen merupakan faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air. Kepekatan oksigen terlarut bergantung kepada :
a)    Suhu.
b)   Kehadiran tanaman fotosintesis.
c)    Tingkat penetrasi cahaya bergantung kepada kedalaman dan kekeruhan air.
d)   Tingkat kederasan aliran air.
e)    Jumlah bahan organik yang diuraikan dalam air seperti sampah, ganggang mati atau limbah industri (Soetjipta, 1993).
Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung dari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut. Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik. Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut. Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Hastuti, 2003).
Menghadapi fluktuasi suhu lingkungan hewan poikilotermik melakukan konformitas suhu (termokonformitas), suhu tubuhnya terfluktuasi sesuai dengna suhu lingkunganya. Laju kehilangna panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi dari pada laju produksi panas, sehingga suhu tubuhnya ditentukan oleh suhu lingkungan eksternalnya dari pada suhu metabolisme internalnya. Dilihat dari ketergantungan terhadap suhu lingkungan. Hewan poikilotermik disebut juga sebagai hewan ektoterm (Hastuti, 2003).
Perubahan suhu memiliki pengaruh besar terhadap berbagai tahap proses fisiologi. Misalnya, pengaruh suhu terhadap konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan, kecepatan konsumsi oksigen akan meningkat dengan meningkatnya suhu lingkungan. Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigennya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkunganya naik. Suatu metode untuk menghitung pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi adalah perkiraan Q10, yaitu peningkatan kecepatan proses yang disebabkan oleh peningkatan suhu 10oC. Q10 merupakan perbandingan antara laju reaksi (A) yang terjadi pada suhu (t + 10)oC dan laju reaksi (A) pada suhu t0 oC atau dapat dituliskan dengan rumus :
Q10 = A ( t + 10)oC
A ( t0)oC
Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigenya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkungannya naik. Bila pengaruh suhu terhadap kecepatan konsumsi oksigen ini digambarkan grafiknya, akan diperoleh kurva eksponensial (Kanisius, 2005).

IV.   METODE PENELITIAN
4.1  Alat dan Bahan
Ø  Alat
1.      Termometer
2.      Hitter
3.      Termos panas
4.      Stopwatch
5.      Hand counter
6.      Toples kaca
7.      Gelas ukur
8.      Pengaduk
9.      Boardmaker
Ø  Bahan
1.      Ikan Mas
2.      Es batu
3.      Air
4.2  Skema Kerja
1.      Pengaruh kenaikan suhu medium







 


















2.      Pengaruh penurunan suhu medium


Mengisi toples kaca dengan air kran dan memberi tanda tingginya air dengan boardmaker kemudian mecatat suhunya

 
 



 


















V.      HASIL PENGAMATAN
Kel.
Perlakuan
Berat(gr)
Suhu (T) (0C)
Gerakan operculum
x־
1
2
3
1
Panas
19,29
T0: 27,5
T1: 30,5
T2: 33,5
T3: 36,5
Colaps : 39,5
170
114
115
138
Colaps
152
104
129
137
Colaps
134
104
134
134
Colaps
152
107,3
126
136,3
Colaps
2
Panas
14,7
T0: 29
T1: 32
T2: 35
T3: 38
Colaps : 41
95
107
122
119
Colaps
99
123
126
133
Colaps
102
113
128
136
Colaps
98,6
114,3
125,3
129,3
Colaps
3
Panas
17,3
T0: 28
T1: 31
T2: 34
T3: 37
Colaps : 40
111
111
119
140
Colaps
113
109
125
125
Colaps
107
111
125
144
Colaps
110,3
110,3
123
136,3
Colaps
4
Dingin
10,8
T0: 28
T1: 25
T2: 22
T3: 19
T4: 16
T5: 13
Colaps : 10
140
122
124
106
107
80
Colaps
137
119
116
114
105
90
Colaps
134
127
111
108
105
66
Colaps
140
123
118
109
106
89
Colaps
5
Dingin
11,9
T0: 28
T1: 25
T2: 22
T3: 19
T4: 16
T5: 13
Colaps : 10
106
89
87
93
66
59
Colaps
141
83
85
84
75
68
Colaps
155
104
94
78
61
56
Colaps
134
92
88,7
85
67,5
61
Colaps
6
Dingin
19,3
T0: 28
T1: 25
T2: 22
T3: 19
T4: 16
T5: 13
Colaps : 10
113
103
107
96
74
71
Colaps
112
105
98
93
81
67
Colaps
117
111
97
99
88
62
Colaps
114
106
101
96
81
70
Colaps

VI.   PEMBAHASAN
                 Pada praktikum kali ini, kami melakukan kegiatan yang berkaitan dengan termoregulasi terutama pada hewan poikilotermik. Hewan poikilotermik yang menjadi sampel percobaan adalah ikan mas.
Adapun cara kerja yang dilakukan yaitu percobaan pertama, mengisi toples kaca dengan air kran dan memberi batas volume air dengan boardmaker dan mengukur suhu awalnya. Setelah itu menimbang berat ikan yang akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh berat ikan terhadap kecepatan penggunaan oksigen terlarut. Kemudian memasukkan ikan yang sudah ditimbang kedalam toples kaca yang telah berisi air, setelah ikan tenang maka dilakukan penghitungan gerak operculum per menit dan mengulanginya sebanyak  3 kali dan menghitung rata-ratanya. Kemudian menaikkan suhu air dengan interval 30C dengan cara menambahkan air panas kedalam toples kaca namun tetap menjaga agar volume air tidak berubah agar ikan tidak muncul kepermukaan dan keluar dari toples kaca karena volume air bertambah banyak dan menjaga kadar oksigen yang terlarut agar tetap dan tidak berpengaruh yaitu itu dengan mengurangi air dalam toples sebanyak air panas yang ditambahkan. Setelah ikan tenang, menghitung gerak operculum per menit dan mengulanginya sebanyak  3 kali dan menghitung rata-ratanya. Kenaikan suhu diteruskan sampai mencapai suhu kritis tertinggi dan menghentikan perlakuan pada saat ikan mulai kolaps.
Pada percobaan kedua, yaitu mengisi toples kaca dengan air kran dan memberi batas volume air dengan boardmaker dan mengukur suhu awalnya. Setelah itu menimbang berat ikan yang akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh berat ikan terhadap kecepatan penggunaan oksigen terlarut. Kemudian memasukkan ikan yang sudah ditimbang kedalam toples kaca yang telah berisi air, setelah ikan tenang maka dilakukan penghitungan gerak operculum per menit dan mengulanginya sebanyak  3 kali dan menghitung rata-ratanya. Kemudian menaikkan suhu air dengan interval 30C dengan cara menambahkan es batu kedalam toples kaca namun tetap menjaga agar volume air tidak berubah agar ikan tidak muncul kepermukaan dan keluar dari toples kaca karena volume air bertambah banyak dan menjaga kadar oksigen yang terlarut agar tetap dan tidak berpengaruh yaitu dengan mengurangi air dalam toples sebanyak es batu yang ditambahkan. Setelah ikan tenang, menghitung gerak operculum per menit dan mengulanginya sebanyak  3 kali dan menghitung rata-ratanya. Kenaikan suhu diteruskan sampai mencapai suhu kritis terendah dan menghentikan perlakuan pada saat ikan mulai kolaps.
                 Ikan merupakan hewan poikilotermik. Artinya, dalam mekanisme termoregulasinya ikan memiliki ketergantungan suhu terhadap lingkungannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan percobaan menaikkan dan menurunkan suhu air. Sebagai hewan air, ikan memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air, beberapa spesies mampu hidup pada suhu air mencapai 290C, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas.
                 Dari hasil pengamatan pada percobaan pertama (pengaruh kenaikan suhu air) dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu dinaikkan dari suhu normal, maka gerakan operculum juga semakin meningkat. Ketika suhu dinaikkan maka akan terjadi penurunan O2 dalam air, sehingga gerakan operculum ikan juga semakin meningkat. Hal ini dikarenakan molekul air lebih padat dan lebih sulit bergerak atau mengalir, sehingga memungkinkan air jauh lebih sulit mengalir ke organ pernafasan. Oleh karena itu, ikan harus mengeluarkan energi lebih banyak. Hal ini dapat mempersulit ikan untuk memperoleh O2, apalagi dengan perlakuan berupa menaikkan dan menurunkan suhu dari kamar. Namun, pada hasil yang diperoleh kelompok 1, pada suhu awal gerakan operculum ikan diperoleh hasil yang cepat, yaitu dengan rata-rata 152. Kemudian pada kenaikan suhu pertama (30,50C) rata-rata gerak operculum ikan 107,3. Pada kenaikan suhu kedua (33,50C) rata-rata gerak operculum ikan 126. Pada kenaikan suhu ketiga (36,50C) rata-rata gerak operculum ikan 136,3. Kemudian pada suhu 39,50C ikan colaps. Sedangkan pada kelompok 2,3,4,5  dan 6 hasilnya semakin tinggi suhu maka gerak operculum semakin lambat. Kelompok 1 menggunakan hand counter saat menghitung suhu awal dan saat menghitung kenaikan suhu pertama, kedua, ketiga dan suhu dimana ikan mulai colaps menggunakan perhitungan secara manual. Jadi kesalahan yang terjadi pada kelompok 1 ini diakibatkan karena hand counter yang digunakan rusak jadi perhitungannya tidak valid.
                 Ketidakseimbangan ikan pada suhu, setelah suhu dinaikkan terus-menerus dikarenakan perubahan suhu lingkungan yang begitu cepat yaitu dari suhu normal menjadi semakin tinggi. Pada saat menaikkan suhu lingkungan, proses pernafasan yang dilakukan oleh ikan berlangsung sangat cepat yang dibuktikan dengan meningkatnya intensitas gerakan operculum membuka dan menutup. Hal ini di akibatkan kadar O2 dalam air menjadi semakin berkurang sehingga memacu kerja operculum dan mempercepat metabolisme tubuh.
Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut:
a.    Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b.    Kecepatan reaksi kimia meningkat.
c.    Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d.   Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
Selanjutnya, dari hasil pengamatan pada percobaan kedua (pengaruh penurunan suhu air) dapat dilihat bahwa semakin suhu diturunkan dari suhu normal, maka gerakan operculum juga semakin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah suhu pada lingkungan maka intensitas gerakan operculum semakin lambat dikarenakan proses metabolisme berjalan lambat dan memperlambat kerja organ pernafasan pada ikan karena membekunya berbagai organ vital.
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang. Misalnya stres yang ditandai tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal, sedangkan suhu rendah mengakibatkan ikan menjadi rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.
Hewan poikilotermik seperti ikan, mempertahankan kondisi tubuhnya ikan beradaptasi dengan cara konformitas yaitu menyesuaikan lingkungan internal tubuhnya dengan lingkungan eksternalnya. Salah satu bentuk adaptasinya adalah penyesuaian dengan suhu lingkungannya, sehingga ikan dapat dikatakan sebagai termokonformer. Setiap organisme termasuk hewan poikilotermik, memiliki rentang toleransi terhadap perubahan suhu lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu lingkungan, maka organisme akan melakukan proses homeostasis agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Akan tetapi, jika perubahan suhu lingkungan ini melebihi batas toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka dapat dipastikan hewan tersebut tidak mampu bertahan. Inilah sebabnya pada suhu 40oC dan 18oC, ikan tidak mampu lagi menyusuaikan diri terhadap suhu lingkungannya.
Kebutuhan O2 pada ikan selain dipengaruhi oleh suhu lingkungan juga dipengaruhi oleh berat badan. Semakin berat massa ikan maka kebutuhan O2 semakin sedikit. Karena berat tubuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan O2 dalam tubuh ikan. Dalam percobaan ini, air yang tidak dinaikkan maupun diturunkan suhunya (30oC) berfungsi sebagai kontrol. Kontrol ini dapat dijadikan patokan untuk melihat apakah pengaruh jika suhu dinaikkan ataupun diturunkan.
Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain.
Oksigen dapat mengalami reduksi atau pengurangan jumlahnya disebabkan oleh:
1.  Respirasi/pernafasan
2.   Dekomposisi bahan organic
3.   Adanya gas-gas lain
4.   Reaksi fero menjadi feri
5.   Penguapan karena suhu naik
6.   Masuknya tanah bersama air tanah
                 Sedangkan kelarutan oksigen dalam air dapat dipengaruhi oleh suhu,tekanan, salinitas,kejenuhan, dan gas lain.
                 Gerakan operculum merupakan indikator laju respirasi Ikan. Sedangkan suhu merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan. Telah diketahui bahwa suhu tinggi akan menyebabkan berkurangnya gas oksigen terlarut, akibatnya ikan akan mempercepat gerakan operkulum untuk mendapatkan gas oksigen dengan cepat sesuai kebutuhan respirasinya. Rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan atau hewan air harus memompa sejumlah besar air ke permukaan alat respirasinya untuk mengambil Oksigen. Tidak hanya volume besar yang dibutuhkan tetapi juga energi pemompaan juga semakin besar. Suhu air yang tinggi tidak hanya mempengaruhi kelarutan oksigen tetapi juga mepengaruhi laju metabolisme respirasi ikan.   

VII. KESIMPULAN
1.      Ikan termasuk hewan poikilotermik karena ikan menyesuaikan suhu di dalam tubuh dengan perubahan suhu lingkungan. Hewan poikilotermik memiliki rentang toleransi terhadap perubahan suhu lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu lingkungan, maka organisme akan melakukan proses homeostasis agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2.      Semakin tinggi suhu dinaikkan dari suhu normal, maka gerakan operculum juga semakin meningkat. Semakin rendah suhu pada lingkungan maka intensitas gerakan operkulum semakin lambat. Jika perubahan suhu lingkungan melebihi batas toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka dapat dipastikan hewan tersebut tidak mampu bertahan.
3.      Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut:
a.       Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b.      Kecepatan reaksi kimia meningkat.
c.       Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d.      Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
4.      Makin tinggi suhu air, maka makin rendah kelarutan oksigen dalam air tersebut. Dan makin tinggi kadar garam dalam air, maka makin rendah kelarutan oksigen dalam air tersebut.




















DAFTAR PUSTAKA
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisisologi Ikan. Jakarta: P.T Rineka Cipta 

Hastuti, S. 2003. Respon Glukosa Darah Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, LAC.) Terhadap Stres Perubahan Suhu Lingkungan. http://jamu.journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/viewFile/3878/2205. Vol.2 (diakses 23 Oktober 2013)

Hutagalung, Horas P. 1988. Pengaruh Suhu Air Terhadap Kehidupan Organisme Laut. http://www.oseanografi.lipi.go.id/sites/default/files/oseana_xiii%284% 29153-164.pdf. Vol. XIII (diakses 23 Oktober 2013)

Kanisius. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogjakarta: Kanisius 

Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogjakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sugiri.

Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang.

Tunas, Arthama Wayan. 2005. Patologi Ikan Toloestei. Yogjakarta: Universitas Gadjah Mada.