I.
JUDUL
: Penyesuaian Hewan
Poikilotermik Terhadap Oksigen Terlarut
II.
TUJUAN
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui
penyesuaian hewan poikilotermik terhadap :
1. Oksigen
yang terkandung di dalam air karena pengaruh suhu air
2. Oksigen
yang terkandung di dalam air karena pengaruh kadar garam dalam air
III.
DASAR
TEORI
Keberhasilan suatu organisme untuk
bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap
seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut. Artinya
bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi
lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan
tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis
berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan
reproduksi biota perairan (Tunas, 2005).
Suhu merupakan faktor penting dalam
ekosistem perairan. Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan
hewan air lainnya terganggu. Air memiliki beberapa sifat termal yang unik,
sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Walaupun
suhu kurang mudah berubah di dalam air daripada di udara, namun suhu merupakan
faktor pembatas utama, oleh karena itu mahluk akuatik sering memiliki toleransi
yang sempit (Soetjipta, 1993).
Ikan merupakan hewan ektotermik yang
berarti tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau
menyesuaikan suhu lingkungan sekelilingnya. Sebagai hewan air, ikan memiliki
beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan
habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi
lingkungan (Fujaya, 2004).
Secara kesuluruhan ikan lebih
toleran terhadap perubahan suhu air, beberapa spesies mampu hidup pada suhu air
mencapai 290C, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang
sangat dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya
terbatas (Sukiya, 2005)
Ikan yang hidup di dalam air yang
mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Hal
tersebut dapat diamati dari perubahan gerakan operculum ikan. Kisaran toleransi
suhu antara spesies ikan satu dengan lainnya berbeda, misalnya pada ikan
salmonid suhu terendah yang dapat menyebabkan kematian berada tepat diatas
titik beku, sedangkan suhu tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis ikan
(Tunas, 2005).
Setiap kali mulut dibuka, maka air
dari luar akan masuk menuju farink kemudian keluar lagi melalui melewati celah
insang, peristiwa ini melibatkan kartilago sebagai penyokong filamen ikan.
Selanjutnya Sukiya menambahkan bahwa lamella insang berupa lempengan tipis yang
diselubungi epitel pernafasan menutup jaringan vaskuler dan busur aorta,
sehingga karbondioksida darah dapat bertukar dengan oksigen terlarut di dalam
air (Sukiya, 2005).
Organ insang pada ikan ditutupi oleh
bagian khusus yang berfungsi untuk mengeluarkan air dari insang yang disebut
operculum yang membentuk ruang operkulum di sebelah sisi lateral insang. Laju
gerakan operculum ikan mempunyai korelasi positif terhadap laju respirasi ikan
(Sukiya, 198).
Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa
akibat sebagai berikut
a. Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b. Kecepatan reaksi kimia meningkat
c. Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan
hewan air lainnya mungkin akan mati.
(Kanisius, 2005).
Peningkatan suhu air dapat
menyebabkan penurunan kelarutan gas-gas, tetapi meningkatkan solubilitas
senyawa-senyawa toksik seperti polutan minyak mentah dan pestisida, serta
meningkatkan toksisitas logam berat, sebagai contoh bahwa pada air tawar
(salinitas 0%) peningkatan suhu dari 25 menjadi 300C menyebabkan
penurunan kelarutan oksigen dari 8,4 menjadi 7,6 mg/liter (Tunas, 2005).
Suhu tinggi tidak selalu berakibat
mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka
panjang. Misalnya stres yang ditandai tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku
abnormal, sedangkan suhu rendah mengakibatkan ikan menjadi rentan terhadap
infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya
suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah
menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan
denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat
kekurangan oksigen (Tunas, 2005).
Suhu perairan sangat berpengaruh
terhadap laju metabolisme dan proses-proses biologis ikan. Ditunjukkan bahwa
aktivitas enzim pencernaan karbohidrase sangat dipengaruhi oleh suhu, aktivitas
protease tertinggi dijumpai pada musim panas, adapun aktivitas amilase tertinggi
dijumpai pada musim gugur (Tunas, 2005).
Oksigen
merupakan gas yang tidak berbau, tidak berasa dan hanya sedikit larut dalam
air. Semua organisme air membutuhkan oksigen dalam hidupnya. Sehingga, tempat
yang mengandung oksigen sellau terdapat organisme di dalamnya dan makin banyak
oksigen terlarut di daerah tersebut, maka makin banyak organisme yang ada di
dalmnya. Jadi kadar oksigen terlarut dapat dijadikan ukuran untuk menentukan
kualitas air (Hutagalung, 1988).
Oksigen
terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam
air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemmapuan
air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk
kehidupannya. Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman
air, dimana jumlahnya tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya, dan dari
atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas. Oksigen
terlarut dalam laut dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan
penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme. Konsentrasi oksigen terlarut
dlaam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer (Hutagalung, 1988).
Oksigen merupakan faktor pembatas
dalam penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air. Kepekatan oksigen
terlarut bergantung kepada :
a)
Suhu.
b)
Kehadiran tanaman fotosintesis.
c)
Tingkat penetrasi cahaya bergantung kepada kedalaman
dan kekeruhan air.
d)
Tingkat kederasan aliran air.
e)
Jumlah bahan organik yang diuraikan dalam air seperti
sampah, ganggang mati atau limbah industri (Soetjipta, 1993).
Kecepatan difusi oksigen dari udara,
tergantung dari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas,
pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut. Kadar
oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan
berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar
oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara
bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan
terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang
dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi
bahan-bahan organik dan anorganik. Keperluan organisme terhadap oksigen relatif
bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen
untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan
ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat
menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap
perairan yang kekurangan oksigen terlarut. Kandungan oksigen terlarut (DO)
minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa
beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup
mendukung kehidupan organisme. Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh
kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan
sebesar 70% (Hastuti, 2003).
Menghadapi
fluktuasi suhu lingkungan hewan poikilotermik melakukan konformitas suhu
(termokonformitas), suhu tubuhnya terfluktuasi sesuai dengna suhu lingkunganya.
Laju kehilangna panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi dari pada laju
produksi panas, sehingga suhu tubuhnya ditentukan oleh suhu lingkungan
eksternalnya dari pada suhu metabolisme internalnya. Dilihat dari
ketergantungan terhadap suhu lingkungan. Hewan poikilotermik disebut juga
sebagai hewan ektoterm (Hastuti, 2003).
Perubahan suhu memiliki pengaruh
besar terhadap berbagai tahap proses fisiologi. Misalnya, pengaruh suhu
terhadap konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan, kecepatan
konsumsi oksigen akan meningkat dengan meningkatnya suhu lingkungan. Pada
seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi
oksigennya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkunganya naik. Suatu
metode untuk menghitung pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi adalah
perkiraan Q10, yaitu peningkatan kecepatan proses yang disebabkan
oleh peningkatan suhu 10oC. Q10 merupakan perbandingan
antara laju reaksi (A) yang terjadi pada suhu (t + 10)oC dan laju
reaksi (A) pada suhu t0 oC atau dapat dituliskan dengan
rumus :
Q10
= A ( t + 10)oC
A ( t0)oC
Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu
toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigenya akan meningkat dengan cepat begitu
suhu lingkungannya naik. Bila pengaruh suhu terhadap kecepatan konsumsi oksigen
ini digambarkan grafiknya, akan diperoleh kurva eksponensial (Kanisius, 2005).
IV. METODE PENELITIAN
4.1 Alat
dan Bahan
Ø
Alat
1.
Termometer
2.
Hitter
3.
Termos panas
4.
Stopwatch
5.
Hand counter
6.
Toples kaca
7.
Gelas ukur
8.
Pengaduk
9.
Boardmaker
Ø
Bahan
1.
Ikan Mas
2.
Es batu
3.
Air
4.2 Skema
Kerja
1.
Pengaruh kenaikan suhu medium
![]() |
||
![]() |
||
2.
Pengaruh penurunan suhu medium
|
![]() |
V. HASIL PENGAMATAN
|
Kel.
|
Perlakuan
|
Berat(gr)
|
Suhu (T) (0C)
|
Gerakan
operculum
|
x־
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|||||
|
1
|
Panas
|
19,29
|
T0:
27,5
T1:
30,5
T2:
33,5
T3:
36,5
Colaps : 39,5
|
170
114
115
138
Colaps
|
152
104
129
137
Colaps
|
134
104
134
134
Colaps
|
152
107,3
126
136,3
Colaps
|
|
2
|
Panas
|
14,7
|
T0:
29
T1:
32
T2:
35
T3:
38
Colaps : 41
|
95
107
122
119
Colaps
|
99
123
126
133
Colaps
|
102
113
128
136
Colaps
|
98,6
114,3
125,3
129,3
Colaps
|
|
3
|
Panas
|
17,3
|
T0:
28
T1:
31
T2:
34
T3:
37
Colaps : 40
|
111
111
119
140
Colaps
|
113
109
125
125
Colaps
|
107
111
125
144
Colaps
|
110,3
110,3
123
136,3
Colaps
|
|
4
|
Dingin
|
10,8
|
T0:
28
T1:
25
T2:
22
T3:
19
T4:
16
T5:
13
Colaps : 10
|
140
122
124
106
107
80
Colaps
|
137
119
116
114
105
90
Colaps
|
134
127
111
108
105
66
Colaps
|
140
123
118
109
106
89
Colaps
|
|
5
|
Dingin
|
11,9
|
T0:
28
T1:
25
T2:
22
T3:
19
T4:
16
T5:
13
Colaps : 10
|
106
89
87
93
66
59
Colaps
|
141
83
85
84
75
68
Colaps
|
155
104
94
78
61
56
Colaps
|
134
92
88,7
85
67,5
61
Colaps
|
|
6
|
Dingin
|
19,3
|
T0:
28
T1:
25
T2:
22
T3:
19
T4:
16
T5:
13
Colaps : 10
|
113
103
107
96
74
71
Colaps
|
112
105
98
93
81
67
Colaps
|
117
111
97
99
88
62
Colaps
|
114
106
101
96
81
70
Colaps
|
VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, kami
melakukan kegiatan yang berkaitan dengan termoregulasi terutama pada hewan
poikilotermik. Hewan poikilotermik yang menjadi sampel percobaan adalah ikan
mas.
Adapun cara kerja yang dilakukan yaitu percobaan
pertama, mengisi toples kaca dengan air kran dan memberi batas volume air
dengan boardmaker dan mengukur suhu awalnya. Setelah itu menimbang berat ikan
yang akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh berat ikan
terhadap kecepatan penggunaan oksigen terlarut. Kemudian memasukkan ikan yang
sudah ditimbang kedalam toples kaca yang telah berisi air, setelah ikan tenang
maka dilakukan penghitungan gerak operculum per menit dan mengulanginya
sebanyak 3 kali dan menghitung rata-ratanya.
Kemudian menaikkan suhu air dengan interval 30C dengan cara
menambahkan air panas kedalam toples kaca namun tetap menjaga agar volume air
tidak berubah agar ikan tidak muncul kepermukaan dan keluar dari toples kaca
karena volume air bertambah banyak dan menjaga kadar oksigen yang terlarut agar
tetap dan tidak berpengaruh yaitu itu dengan mengurangi air dalam toples
sebanyak air panas yang ditambahkan. Setelah ikan tenang, menghitung gerak
operculum per menit dan mengulanginya sebanyak
3 kali dan menghitung rata-ratanya. Kenaikan suhu diteruskan sampai
mencapai suhu kritis tertinggi dan menghentikan perlakuan pada saat ikan mulai
kolaps.
Pada percobaan kedua, yaitu mengisi
toples kaca dengan air kran dan memberi batas volume air dengan boardmaker dan
mengukur suhu awalnya. Setelah itu menimbang berat ikan yang akan digunakan
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh berat ikan terhadap kecepatan
penggunaan oksigen terlarut. Kemudian memasukkan ikan yang sudah ditimbang
kedalam toples kaca yang telah berisi air, setelah ikan tenang maka dilakukan
penghitungan gerak operculum per menit dan mengulanginya sebanyak 3 kali dan menghitung rata-ratanya. Kemudian
menaikkan suhu air dengan interval 30C dengan cara menambahkan es
batu kedalam toples kaca namun tetap menjaga agar volume air tidak berubah agar
ikan tidak muncul kepermukaan dan keluar dari toples kaca karena volume air
bertambah banyak dan menjaga kadar oksigen yang terlarut agar tetap dan tidak
berpengaruh yaitu dengan mengurangi air dalam toples sebanyak es batu yang
ditambahkan. Setelah ikan tenang, menghitung gerak operculum per menit dan
mengulanginya sebanyak 3 kali dan
menghitung rata-ratanya. Kenaikan suhu diteruskan sampai mencapai suhu kritis
terendah dan menghentikan perlakuan pada saat ikan mulai kolaps.
Ikan merupakan hewan
poikilotermik. Artinya, dalam mekanisme termoregulasinya ikan memiliki
ketergantungan suhu terhadap lingkungannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan
percobaan menaikkan dan menurunkan suhu air. Sebagai hewan air, ikan memiliki
beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan
habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi
lingkungan. Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air,
beberapa spesies mampu hidup pada suhu air mencapai 290C, sedangkan
jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat dingin, akan tetapi kisaran
toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas.
Dari hasil pengamatan pada percobaan
pertama (pengaruh kenaikan suhu air) dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu
dinaikkan dari suhu normal, maka gerakan operculum juga semakin meningkat.
Ketika suhu dinaikkan maka akan terjadi penurunan O2 dalam air,
sehingga gerakan operculum ikan juga semakin meningkat. Hal ini dikarenakan
molekul air lebih padat dan lebih sulit bergerak atau mengalir, sehingga
memungkinkan air jauh lebih sulit mengalir ke organ pernafasan. Oleh karena
itu, ikan harus mengeluarkan energi lebih banyak. Hal ini dapat mempersulit
ikan untuk memperoleh O2, apalagi dengan perlakuan berupa menaikkan
dan menurunkan suhu dari kamar. Namun, pada hasil yang diperoleh kelompok 1,
pada suhu awal gerakan operculum ikan diperoleh hasil yang cepat, yaitu dengan
rata-rata 152. Kemudian pada kenaikan suhu pertama (30,50C) rata-rata
gerak operculum ikan 107,3. Pada kenaikan suhu kedua (33,50C)
rata-rata gerak operculum ikan 126. Pada kenaikan suhu ketiga (36,50C)
rata-rata gerak operculum ikan 136,3. Kemudian pada suhu 39,50C ikan
colaps. Sedangkan pada kelompok 2,3,4,5
dan 6 hasilnya semakin tinggi suhu maka gerak operculum semakin lambat. Kelompok
1 menggunakan hand counter saat menghitung suhu awal dan saat menghitung
kenaikan suhu pertama, kedua, ketiga dan suhu dimana ikan mulai colaps menggunakan
perhitungan secara manual. Jadi kesalahan yang terjadi pada kelompok 1 ini
diakibatkan karena hand counter yang digunakan rusak jadi perhitungannya tidak
valid.
Ketidakseimbangan ikan pada
suhu, setelah suhu dinaikkan terus-menerus dikarenakan perubahan suhu
lingkungan yang begitu cepat yaitu dari suhu normal menjadi semakin tinggi.
Pada saat menaikkan suhu lingkungan, proses pernafasan yang dilakukan oleh ikan
berlangsung sangat cepat yang dibuktikan dengan meningkatnya intensitas gerakan
operculum membuka dan menutup. Hal ini di akibatkan kadar O2 dalam
air menjadi semakin berkurang sehingga memacu kerja operculum dan mempercepat
metabolisme tubuh.
Kenaikan suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut:
a.
Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b.
Kecepatan reaksi kimia meningkat.
c.
Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d.
Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan
hewan air lainnya mungkin akan mati.
Selanjutnya,
dari hasil pengamatan pada percobaan kedua (pengaruh penurunan suhu air) dapat
dilihat bahwa semakin suhu diturunkan dari suhu normal, maka gerakan operculum
juga semakin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah suhu pada
lingkungan maka intensitas gerakan operculum semakin lambat dikarenakan proses
metabolisme berjalan lambat dan memperlambat kerja organ pernafasan pada ikan
karena membekunya berbagai organ vital.
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan
gangguan status kesehatan untuk jangka panjang. Misalnya stres yang ditandai
tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal, sedangkan suhu rendah
mengakibatkan ikan menjadi rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen
akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air
mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan
pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung sehingga dapat
berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.
Hewan
poikilotermik seperti ikan, mempertahankan kondisi tubuhnya ikan beradaptasi
dengan cara konformitas yaitu menyesuaikan lingkungan internal tubuhnya dengan
lingkungan eksternalnya. Salah satu bentuk adaptasinya adalah penyesuaian
dengan suhu lingkungannya, sehingga ikan dapat dikatakan sebagai termokonformer.
Setiap organisme termasuk hewan poikilotermik, memiliki rentang toleransi
terhadap perubahan suhu lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu lingkungan,
maka organisme akan melakukan proses homeostasis agar dapat bertahan dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Akan tetapi, jika perubahan suhu
lingkungan ini melebihi batas toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka
dapat dipastikan hewan tersebut tidak mampu bertahan. Inilah sebabnya pada suhu
40oC dan 18oC, ikan tidak mampu lagi menyusuaikan diri
terhadap suhu lingkungannya.
Kebutuhan O2
pada ikan selain dipengaruhi oleh suhu lingkungan juga dipengaruhi oleh berat
badan. Semakin berat massa ikan maka kebutuhan O2 semakin sedikit.
Karena berat tubuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan O2
dalam tubuh ikan. Dalam percobaan ini, air yang tidak dinaikkan maupun
diturunkan suhunya (30oC) berfungsi sebagai kontrol. Kontrol ini
dapat dijadikan patokan untuk melihat apakah pengaruh jika suhu dinaikkan
ataupun diturunkan.
Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan,
aktivitas, suhu, dan lain-lain.
Oksigen
dapat mengalami reduksi atau pengurangan jumlahnya disebabkan oleh:
1. Respirasi/pernafasan
2. Dekomposisi bahan organic
3. Adanya gas-gas lain
4. Reaksi fero menjadi feri
5. Penguapan karena suhu naik
6. Masuknya tanah bersama air tanah
Sedangkan kelarutan oksigen dalam air dapat
dipengaruhi oleh suhu,tekanan, salinitas,kejenuhan, dan gas lain.
Gerakan operculum merupakan
indikator laju respirasi Ikan. Sedangkan suhu merupakan faktor pembatas bagi
kehidupan ikan. Telah diketahui bahwa suhu tinggi akan menyebabkan berkurangnya
gas oksigen terlarut, akibatnya ikan akan mempercepat gerakan operkulum untuk
mendapatkan gas oksigen dengan cepat sesuai kebutuhan respirasinya. Rendahnya
jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan atau hewan air harus memompa sejumlah
besar air ke permukaan alat respirasinya untuk mengambil Oksigen. Tidak hanya
volume besar yang dibutuhkan tetapi juga energi pemompaan juga semakin besar. Suhu
air yang tinggi tidak hanya mempengaruhi kelarutan oksigen tetapi juga
mepengaruhi laju metabolisme respirasi ikan.
VII. KESIMPULAN
1.
Ikan termasuk hewan poikilotermik karena ikan
menyesuaikan suhu di dalam tubuh dengan perubahan suhu lingkungan. Hewan
poikilotermik memiliki rentang toleransi terhadap perubahan suhu lingkungan.
Ketika terjadi perubahan suhu lingkungan, maka organisme akan melakukan proses
homeostasis agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2.
Semakin tinggi suhu dinaikkan dari suhu normal, maka
gerakan operculum juga semakin meningkat. Semakin rendah suhu pada lingkungan
maka intensitas gerakan operkulum semakin lambat. Jika perubahan suhu
lingkungan melebihi batas toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka dapat
dipastikan hewan tersebut tidak mampu bertahan.
3. Kenaikan
suhu air akan dapat menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut:
a.
Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun.
b.
Kecepatan reaksi kimia meningkat.
c.
Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
d.
Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan
hewan air lainnya mungkin akan mati.
4. Makin
tinggi suhu air, maka makin rendah kelarutan oksigen dalam air tersebut. Dan makin
tinggi kadar garam dalam air, maka makin rendah kelarutan oksigen dalam air
tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisisologi Ikan.
Jakarta: P.T Rineka Cipta
Hastuti, S. 2003. Respon
Glukosa Darah Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy, LAC.) Terhadap Stres Perubahan Suhu Lingkungan. http://jamu.journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/viewFile/3878/2205.
Vol.2 (diakses 23 Oktober 2013)
Hutagalung, Horas P. 1988. Pengaruh
Suhu Air Terhadap Kehidupan Organisme Laut. http://www.oseanografi.lipi.go.id/sites/default/files/oseana_xiii%284%
29153-164.pdf. Vol. XIII
(diakses 23 Oktober 2013)
Kanisius. 1992. Polusi
Air dan Udara. Yogjakarta: Kanisius
Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan.
Yogjakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sugiri.
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Tunas, Arthama Wayan. 2005. Patologi Ikan Toloestei.
Yogjakarta: Universitas Gadjah Mada.


